| No comment yet

Khazanah Naskah Syair Bidasari -2- Ragam Koleksi & Lokasi (Indonesia-Inggris)

 Penulis buku paling baru tentang Syair Bidasari ialah Julian Patrick Millie. Bukunya yang berjudul “Bidasari: Jewel of Muslim Malay culture” terbit pada tahun 2004 yang lalu.

Dalam tinjauan atas buku itu, Braginsky (2007: 301) mereken tak kurang dari selusin manuskrip Syair Bidasari (SB) yang masih tersedia.

Ada berapakah sebenarnya jumlah manuskrip SB?

Mari telusuri.

Manuskrip Syair Bidasari di Indonesia


Bagian Layanan Koleksi Naskah Nusantara di lantai 9 Gedung Perpustakaan Nasional, Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat.

Di bagian Naskah Kuno Perpusnas inilah tersimpan manuskrip SB berkode W 256.


Sumber gambar: https://khastara.perpusnas.go.id/landing/detail/643930


Deskripsi fisik dan catatan tentang koleksi manuskrip SB di Perpusnas. Sumber: https://opac.perpusnas.go.id/DetailOpac.aspx?id=643930



Koleksi Perpusnas (dulu koleksi Museum Pusat) ini menjadi teks sumber transliterasi oleh Tuti Banuwati Munawar yang terbit tahun 1978.








Edisi Tuti Munawar ini 22 tahun kemudian Aloysia Indrastuti gubah jadi buku bacaan siswa SD berjudul “Putri Bidasari”.


Indrastuti, Aloysia. 2000. "Putri Bidasari". Jakarta: Depdikbud.


Tuti Munawar punya empat alasan menggarap manuskrip SB.

Berikut ini salah duanya.

Sumber: Munawar, Tuti. 1978. "Syair Bidasari". Jakarta: Depdikbud. hlm. 9.


Alasan pertama menunjukkan bahwa sejak dari Museum Pusat sampai Perpustakaan Nasional hanya ada satu manuskrip SB milik bersama rakyat Indonesia. Kecuali bila nanti ditemukan ‘naskah baru’.

Alasan kedua menunjukkan bahwa kita mengalami ketertinggalan dua langkah. Lebih dari seabad sebelumnya para peneliti asing telah mengalihbahasakan teks SB, tentu saja sekaligus alih aksara.

Kode "vdW" adalah inisial nama "Von de Wall".

Berarti manuskrip ini berasal dari koleksi milik Hermann von de Wall yang beralih jadi koleksi Perpustakaan Bataviaaasch Genootschap beberapa bulan setelah ia meninggal dunia pada tahun 1873 (Behrend, 1998: xxii).

Ya!  Von de Wall itu. Ahli bahasa yang pernah menulis artikel tentang percetakan Al-Qur’an (pertama) di Palembang.





Kembali ke Tuti, mari mengorek sedikit profil penggarap naskah kita ini.

Dra. Tuti Munawar adalah kurator naskah yang produktif membukukan manuskrip-manuskrip koleksi Museum Pusat. Belasan judul buku dinisbahkan pada namanya. Ia termasuk peneliti naskah Nusantara yang karya-karya suntingannya terbit di bawah bendera “Proyek Penerbitan Buku Bacaan dan Sastra Indonesia dan Daerah”.

Sedangkan tahun 1978 merupakan sebatang patok dalam perjalanan pernaskahan Nusantara. Tahun itu menandai mulainya penerbitan puluhan buku hasil kerja filolog Indonesia.

Grafik batang di bawah ini menunjukkan tahun-tahun penerbitan buku-buku di bawah proyek itu. Namun ilustrasi dari situs jaringan katalog sedunia (WorldCat) ini hanya menunjukkan jumlah buku yang dikoleksi oleh perpustakaan-perpustakaan di berbagai negara. 




Perlu penelusuran lebih lanjut untuk mengetahui jumlah judul dan eksemplar buku-buku itu dicetak serta didistribusikan ke mana saja untuk memperkirakan luas persebarannya.

Tapi jauh lebih penting mengetahui apakah buku-buku itu dibaca. Salah satu petunjuknya ialah tulisan-tulisan yang menjadikan buku-buku itu sebagai bahan kajian atau sekadar rujukan.

Hasil penelusuran lewat jaringan katalog perpustakaan se-Indonesia (Onesearch.id) menunjukkan baru ada dua judul karya ilmiah yang mengkaji syair ini.





Mariati, Sri. 1986. “Laporan Penelitian Gaya Perbandingan dalam Syair Bidasari”. Jember: Fakultas Sastra Universitas Jember.

Harahap, Yasir Alaina. 2015. “Kajian Nilai Religius dalam Syair Bidasari”. Pekanbaru: Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, tidak dipublikasikan.

Syukurlah Universitas Lancang Kuning (Unilak) punya beberapa judul penelitian tentang SB. Selain mahasiswa, seorang staf pengajar Fakultas Ilmu Budaya Unilak menulis artikel tentang SB di Jurnal Ilmu Budaya Unilak. 

Fauzi, Mohd. 2015. “Fungsi Bahasa dalam Syair Bidasari: Kajian Sosiopragmatik”. Jurnal Ilmu Budaya Unilak, Vol. 12 No. 1. hlm. 11-20.

Tak ditemukan rujukan berupa hasil-hasil penelitian lain mengenai SB dalam daftar pustaka artikel Fauzi tersebut. Nampaknya ada lubang besar dalam kapling kajian naskah SB di Indonesia. 

Tahun 2016, ada seorang lagi mahasiswa FIB Unilak menulis skripsi tentang filem Bidasari.

Syafriyanti. 2016. “Kajian Psikoanalisis dalam Film Bidasari Arahan Jamil Sulong”. Pekanbaru: Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Lancang Kuning, tidak dipublikasikan.  

Jika hasil penelusuran di atas benar, berarti belum ada tesis dan disertasi di Indonesia yang mengkaji Syair Bidasari.  

***

Kembali ke tahun 1978.

Saat itu Tuti Munawar masih sebagai Asisten Kurator di Bagian Pernaskahan Museum Pusat.




Tuti Munawar rekan sejawat Jumsari Jusuf, atau Yumsari Yusuf, filolog Indonesia yang juga prolifik. Jumsari Jusuf mengalih aksara naskah Syair Nuri karya Sultan Mahmud Badaruddin II menjadi buku yang juga terbit tahun 1978.






Dua perempuan filolog tersebut terbilang obskur. Tak mudah memperoleh tulisan berisi informasi profilnya.

Berbeda dengan senior mereka, Drs. Atja, yang mengolah manuskrip Syair Perang Muntinghe/Menteng menjadi buku Syair Perang Palembang (1967 & 1994).






Lewat Atja terbaca nama Sutaarga yang ia sebut secara takzim dalam kata pembuka bukunya.




Bersama rekan-rekan sejawatnya Sutaarga menyusun buku katalog koleksi naskah pertama dalam bahasa Indonesia, yakni “Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P. dan K” pada tahun 1972.










Katalog ini memuat deskripsi koleksi manuskrip SB sebagai berikut:





Deskripsi koleksi naskah SB dalam katalog Sutaarga ini merupakan terjemahan atas sebagian cantuman dalam katalog Van Ronkel (1909: 315). 





Meski jadul, katalog Sutaarga itu justru ‘lebih lengkap’, atau tepatnya lebih bermanfaat untuk penulisan catatan ini, dibandingkan dengan cantuman dalam katalog suntingan Behrend (1998: 333) yang terbit seperempat abad setelahnya.


Entri koleksi "W 256" dalam katalog Behrend (1998: 333)


***

Empat katalog sudah menunjukkan bahwa Indonesia memiliki koleksi manuskrip SB cuma semata wayang.

“Apakah manuskrip SB juga tersebar sebagaimana terjemahannya dalam berbagai bahasa?

Mari periksa!

Manuskrip Syair Bidasari di Inggris

Tujuan pertama ialah Royal Asiatic Society.


Royal Asiatic Society of Great Britain and Ireland (RAS) adalah lembaga yang dirujuk pada bagian akhir deskripsi koleksi SB dalam katalog Sutaarga dengan keterangan “naskah lain”.






Ada dua manuskrip SB di Perpustakaan RAS.

Manuskrip pertama, “Raffles Malay 7”, sudah dapat diakses dokumen digitalnya lewat Perpustakaan Digital RAS. Koleksi satu ini memuat empat judul teks: Shair Bidasari, Shair Ken Tambuhan, Shair Silindung Delima, & Shair Ikan Tambera.










Sedangkan manuskrip kedua, “Raffles Malay 36”, belum tersedia dokumen digitalnya. Barangkali lantaran kondisi naskah yang sudah tak utuh.






Rupanya tak cuma dua.

Inggris masih punya beberapa buah lagi manuskrip SB di dua perpustakaan perguruan tinggi.

Mari jelajahi.

Dari gedung RAS, cukup berjalan kaki selama 15 menit untuk tiba di Perpustakaan SOAS Universitas London.






Perpustakaan School of Oriental and African Studies ini mengoleksi satu naskah berisi teks SB beraksara Latin. Naskah ini merupakan salinan dari teks terjemahan Van Hoevell (1843) dan Klinkert (1886).

Sumber gambar: Ricklefs, Voorhoeve, & Gallop (2014: 171).


Sedangkan lokasi dua naskah lainnya berjarak sekitar 100 km (1,5 jam naik kereta) dari SOAS, yakni di Perpustakaan Universitas Cambridge.

Universitas Cambridge belum memasukkan data dua koleksi manuskrip SB ke katalog daring perpustakaannya, sebagaimana juga SOAS di atas. Oleh karena itu perlu merujuk ke katalog cetak (paling) anyar dan (paling) lengkap memuat daftar koleksi naskah Nusantara di Inggris Raya yang disusun oleh Ricklefs, Voorhoeve, & Gallop (2014).





Berikut ini dua entri naskah SB di Cambridge dalam katalog tersebut.






***

Sejauh ini sudah diketahui bahwa Inggris punya lima buah koleksi manuskrip SB.

Jika ini adalah pertandingan sepak bola, Indonesia sudah kalah empat angka.

Ya, sudahlah. Saatnya melanjutkan penelusuran.

Dari Inggris Raya, mari menyeberang ke daratan Eropa.

.....
| No comment yet

Khazanah Naskah Syair Bidasari -1- Mestika Sastra Melayu (Palembang)

Jika terkaan Van Hoevell benar bahwa naskah Syair Bidasari berasal dari Palembang, maka bukunya yang terbit di Batavia tahun 1843 adalah yang pertama menelaah naskah sastra Palembang.


"Sjair Bidasari: Een Oorspronkelijk Maleisch Gedicht"


"Syair Bidasari: Sebuah Puisi Melayu Asali"



Syair Bidasari sangat populer di negeri-negeri Melayu. Sebaran kisah ini merentang dari Pesisir Barat Sumatera, Semenanjung Malaya, hingga Kepulauan Filipina.


Silakan periksa katalog-katalog daring beberapa perpustakaan nasional berikut ini:


Perpustakaan Nasional Indonesia

Perpustakaan Negara Malaysia

Perpustakaan Dewan Bahasa dan Pustaka Brunei

Perpustakaan Nasional Singapura

Perpustakaan Nasional Filipina


***


Syair ini berkisah tentang seorang putri yang cantik serupa peri.


Tragedi jadi pembuka kisah ini.


Sang Putri memulai kehidupan sebagai bayi terlantar di tepi sungai dalam hutan.


Setelah dipungut dan dibesarkan oleh suami-istri pedagang, Bidasari tumbuh menjadi gadis jelita laksana bidadari.


Sosok Ratu Pencemburu muncul sebagai tokoh antagonis yang waswas raja akan jatuh hati pada Bidasari. Maka siasat licik pun bekerja.


Kehidupan Bidasari tergantung pada seekor ikan yang berfungsi semacam azimat baginya. Ikan azimat itu diambil oleh Ratu Pencemburu. Saat ratu mengeluarkan ikan dari air dan mengenakannya sebagai kalung, Bidasari hilang kesadaran dan tertidur. Sebaliknya, jika ratu tidur sehingga tak lagi memakai kalung ikan azimat, barulah Bidasari terbangun.


Raja kemudian membebaskan Bidasari dari guna-guna tidur itu.


Tragedi pun berakhir bahagia.


***


Adakah yang tiba-tiba teringat pada dongeng Snow White dan Sleeping Beauty?


Sumber gambar: https://www.pookpress.co.uk/wp-content/uploads/2015/05/SnowWhite_MagaretTarrant_3.jpg

Atau Princess Yue dalam serial Avatar?


Atau Arwen dalam The Lord of The Rings?


Tak hanya di Asia Tenggara, kisah Bidasari juga beredar di Eropa. Terjemahan W.R. van Hoevell (1843) dalam bahasa Belanda diterjemahkan ke bahasa Prancis oleh Louis de Backer pada tahun 1875. Teks prosa Bidasari gubahan De Baker itu kemudian Starkweather terjemahkan ke bahasa Inggris pada tahun 1901 (Chambert-Loir, 2006: 166).


Buku gubahan "Syair Bidasari" menjadi prosa dalam bahasa Prancis, edisi pertama 1875. Sumber gambar: https://eresources.nlb.gov.sg/printheritage/detail/7bc88688-dbca-4b95-b5ff-19f9a750f27c.aspx

Buku "Malayan Literature" yang memuat terjemahan "Syair Bidasari" dalam bahasa Inggris oleh Starkweather, edisi pertama 1901. Sumber gambar: https://archive.org/details/malayanliteratur00bidarich

Kalimat pembuka kata pengantar buku Starkweather yang terbit pada fajar abad ke-20 itu berbunyi:


“Easily the most charming poem of Malayan Literature is the Epic of Bidasari.”


“Puisi paling keren dalam Sastra Melayu, ya Syair Bidasari.”


Begitu kira-kira terjemahan bebasnya. 


Kendati begitu, terjemahan 1901 dalam bahasa Inggris oleh Starkweather bukanlah yang pertama.


Orang pertama yang menerjemahkan Syair Bidasari dalam bahasa Inggris adalah J.R. Logan.


Ya! Logan itu.


Orang pertama yang memopulerkan istilah “Indonesia” sebagai nama kawasan untuk gugusan kepulauan Nusantara. 


Logan ini tipikal intelektual publik. Ia anggota tiga lembaga keilmuan di India, Inggris, dan Hindia Belanda. Ketika mukim bekerja di Singapura, pada tahun 1847 ia menerbitkan Journal of the Indian Archipelago and Eastern Asia,  dengan tambahan keterangan “Dicetak di Jerman”.


Dalam edisi perdana 1847 itulah, bersama belasan artikelnya yang lain, Logan memuat teks terjemahan SHA’IR BIDASARI dalam bahasa Inggris. 


Sebagaimana disebutkan di atas, selain berafiliasi ke lembaga-lembaga keilmuan dalam kawasan kekuasaan Inggris, Logan juga menjadi koresponden untuk lembaga keilmuan di Hindia Belanda (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen).


Korespondensi itulah yang melatarbelakangi penerjemahan Syair Bidasari oleh Logan dengan tetap mempertahankan bentuk larik-larik sajak sebagaimana terjemahan Van Hoevell empat tahun sebelumnya. Dalam catatan akhir pengantar teks terjemahannya, Logan mengaku memanfaatkan catatan-catatan pada terjemahan Van Hoevell; seraya mendaku bahwa teks terjemahannya lebih literal/harfiah, sehingga dapat juga diartikan lebih dekat/tepat, ketimbang terjemahan Van Hoevell.


Terjemahan "Syair Bidasari" dalam bahasa Inggris oleh J.R. Logan pada tahun 1847 yang mempertahankan bentuk bait-bait puisi. Sumber gambar:  https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.107692. hlm. 40.

Akan tetapi, terjemahan Logan itu tak tamat. Ia berencana memuat terjemahannya secara bersambung.


Terjemahan "Syair Bidasari" dalam bahasa Inggris yang hanya sampai bait 61. Di bagian akhir tertera keterangan 'bersambung'. Sumber gambar:  https://archive.org/details/in.ernet.dli.2015.107692. hlm. 48.

Dalam volume 3 jurnal yang sama, Logan memberitahukan bahwa pencantuman catatan penjelasan untuk istilah-istilah terkait adat-istiadat memerlukan banyak halaman. Kendala ruang itu jadi alasan terhentinya pemuatan sambungan terjemahan Shair Bidasari.


Menariknya, pemberitahuan tentang kendala itu adalah bagian dari catatan kaki yang panjang untuk artikel etnografis berjudul “The Manners and Customs of the Malays”. Dari situ nampaklah bahwa upaya penerjemahan naskah Sastra Melayu tak hanya soal apresiasi sastra, tapi sebagai sumber untuk memahami tindak-tanduk dan adat-istiadat orang Melayu sebagai masyarakat jajahan. 

“Dengan kata lain, sastra Melayu dipandang sebagai cermin keadaan masyarakat Melayu dan berfungsi sebagai referensi etnografis belaka. Buku-buku itu tidak dimaksudkan untuk mendidik penduduk lokal, tetapi para administrator kolonial Eropa yang harus belajar bahasa untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih baik dari yang dijajah. Untuk kepentingan itu, tak mengherankan jika mereka berfokus pada karya sastra yang memuat informasi tentang adat-istiadat masyarakat lokal.” (Warnk, 2009: 10)


Dalam perkembangan kemudian, syair romantis ini juga diterjemahkan ke dalam bahasa Jerman dan Rusia.


Begitulah. Penerimaan khalayak terhadap Syair Bidasari begitu luas. Tak terbatas pada kawasan gugusan kepulauan yang Logan sebut Indonesia. Sebagaimana dongeng peri yang ada di mana-mana, Bidasari diterima oleh berbagai bangsa, berbagai bahasa, lewat perantaraan tulisan, mesin cetak, dan kolonialisme.


***


Kembali ke awal, jika terkaan Van Hoevell benar bahwa Syair Bidasari adalah gubahan Palembang, meski awalnya adalah cerita rakyat yang tersebar di berbagai pulau, maka mesti sejak awal pula orang-orang Palembang membaca (kembali) alasan-alasan Van Hoevell menjustifikasi bahasa naskah Syair Bidasari adalah pengaruh Palembang.


Bukan untuk romantisme atau klaim belaka, tentu saja. Dengan menggali lagi bahasa kesusastraan dan kepengarangan Melayu Palembang di ladang bahasa dalam rumah itulah saya kira mestika justru akan didapatkan.

| No comment yet

Palembang & Plaju: Satu Kisah Dua Kota

Anak-anak muda Palembang pendengar lagu-lagu kritik sosial sepertinya akan berkilat matanya jika tahu bahwa Palembang pernah punya sebuah gang bernama "Rebel".

Ya! "Rebel" yang berarti "pemberontak".

Nama gang itu berasal dari seorang Belanda bernama Rebel.

Saya tahu itu dari buku baru terbitan Ombak Yogyakarta berjudul "Palembang dan Plaju: Modernitas dan Dekolonisasi di Perkotaan Sumatera Selatan Abad ke-20".

 


Meski terbit tahun 2019, tetap saya anggap baru. Karena memang baru sempat baca, setelah teronggok lumayan lama.

Waktu mulai baca, asyik ternyata.

Buku tipis 100-an halaman ini saya baca sekali baring.

Bukan karena saya menerapkan metode baca kilat seperti kata iklan pelatihan berbayar itu.

Bukan. Buku ini memang mengasyikkan.

Saya tahu apa sebabnya.

Sejak kata pengantar saya merasa dapat sambutan simpatik dari penulis buku ini.

Ida Liana Tanjung awalnya mengaku rada takut karena stigma Palembang yang kurang aman. Tapi ketakutan itu rupanya jadi ngeri-ngeri sedap. Setelah kenal, ia merasa nyaman dengan keramahan orang Palembang dan pempeknya yang lezat.


hlm. xi

Kata pengantar kedua oleh Freek Colombijn juga menjanjikan isi buku yang indah dan berfaedah bagi pembaca. Tambah penasaran lah saya.


hlm. xvi

Berikut ini sepotong gambaran umum isi buku “Palembang dan Plaju”.


hlm. 6

Sebagai buku gubahan hasil penelitian tesis, rangka buku ini tetap bercorak karangan ilmiah. Tapi daging bahasa isinya empuk dikunyah.


Sumber: https://repository.ugm.ac.id/72220/





Nampaknya Ombak sudah menghaluskan karang-karangan bahasa ilmiah naskah aslinya, sehingga pembacaan dapat mengalir lancar. Meski bukan berarti naskah aslinya pasti sulit dibaca. Saya menduga penyunting buku ini tak memakai gunting, tetapi amplas untuk memperhalus bagian-bagian yang sudah mulus. Begitulah kira-kira.

Saya mengira demikian karena bagian-bagian pendahuluan ala karangan ilmiah yang biasanya kaku justru luwes tuturannya.

Dialog penulis buku ini dengan karya-karya penulis sebelumnya juga penting bagi pembaca untuk mengenal sekilas beberapa judul pustaka utama Kota Palembang.

Perihal cara penulis buku menyusun cerita berdasarkan potongan iklan, cuplikan koran, nukilan novel, peta dan foto antik, dan tentu saja arsip kolonial dan sejarah lisan juga menarik disimak.

Saya ingin sedikit menyimpang pada bagian tentang sumber rujukan.


hlm. 19


Keluhan soal keterbatasan pustaka tentang Palembang cukup sering saya temukan dalam buku-buku tentang Palembang terbitan 1970-an hingga 1990-an. Agak aneh rasanya tetap mendapati pernyataan serupa pada tahun 2020.

Meski begitu, Ida Liana Tanjung benar bahwa buku-buku tentang Palembang lebih banyak seputar sejarah perjuangan. Saya merasa mengalami deja vu ketika membaca pernyataan itu. Karena Jousairi Hasbullah juga menyinggung soal yang sama dalam bukunya tahun 1996.


Sumber: Hasbullah, Jousairi. 1996. "Mamang dan Belanda: Goresan-goresan Wajah Sosial-Ekonomi dan Kependudukan Sumatera Selatan Zaman Kolonial dan Refleksinya pada Hari Ini". Palembang: UNSRI Press. hlm. 17.




Ya sudahlah. Mari lanjut ke bab dua.




Jejak awal Palembang menjadi sebuah kota berada jauh di masa lalu. Pada zaman para datu bersepakat membangun jaringan kekuasaan Kedatuan Sriwijaya. Kisah kegemilangan Sriwijaya, bagi saya, ibarat putaran roda pita suara kaset ceramah Dai Betawi yang mengudara tiap petang dari corong TOA. Sangat akrab di telinga.

Tak keliru tentu saja.

Ulasan ringkas lima halaman tentang Palembang era Sriwijaya dalam buku ini tak jemu dibaca. Begitu pula tinjauan historis tata kota serta tatanan sosial, ekonomi, politik Palembang masa kesultanan setebal sepuluh halaman.

Ida Liana Tanjung mencatat sejak halaman awal bahwa pembangunan gedung-gedung batu (Masjid Agung, Keraton Kuto Batu, dan Kompleks Pemakaman Kawah Tengkurep) pada era Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo (1724-1757 M) adalah awal mula simbol modernitas melekat pada Kota Palembang.

Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, atau SMB I, pernah bilang begini:
“Saya berperang dengan Kompeni, tetapi dengan cara yang berbeda. Saya menembakkan merica dan timah kepada Kompeni dan Kompeni membombardir saya dengan uang real Spanyol yang hebat.”
Ya, itu komedi. Tapi kemudian menjadi tragedi pada masa kepemimpinan Sultan Mahmud Badaruddin II. Merica berubah jadi meriam. Setelah digempur berkali-kali oleh pasukan Belanda dan sekutunya, SMB II akhirnya mengalah pada tahun 1821.




Di atas bongkaran bangunan sistem ekonomi-politik feodal, kolonial Belanda mendirikan bangunan-bangunan baru. Dalam buku “Lukisan tentang Ibu Kota Palembang”, Komisaris yang kemudian menjadi Residen Palembang, Sevenhoven seakan-akan yakin bahwa kolonial Belanda datang untuk membebaskan masyarakat Palembang dari tirani feodalisme.

Ya, itu sejatinya cuma judul dan kover baru yang menyelubungi proses exploitation de'l homme par l'homme. Arsitektur kolonial di atas fondasi ideologis itu sudah disingkap oleh Dedi Irwanto dalam buku “Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Pascakolonial”.

Meski Dedi Irwanto dan Ida Liana Tanjung sama-sama mengungkap makna simbolik dari perubahan Kota Palembang, baik secara fisik maupun non-fisik, keduanya punya perbedaan nyata. Salah satunya dapat dilacak lewat kata kunci. Jika buku “Venesia dari Timur” bertabur kata “ideologi”, buku “Palembang dan Plaju” berserak istilah “modernitas”. Beda kata kunci, beda pula isi teks narasi.

Seperti Sevenhoven dan Dedi Irwanto, Ida Liana Tanjung juga melukis metamorfosis Kota Palembang sepanjang titik-titik kisar perubahan wajah kota yang kentara-signifikan. Dengan risiko bias gender, saya menilai lukisan Ida Liana Tanjung lebih rapi jali. Lukisan Sevenhoven jelas-jelas bias superioritas barat yang congkak ketika menggambarkan tentang dunia timur dan ingin terkesan eksotis ala mooi indie, meski tanpa gunung dan sawah. Sedangkan lukisan Dedi Irwanto menyerupai cetak biru konstruksi jalan, bangunan, dan jembatan.

Sebagai sejarawan yang mengusut benang-benang perubahan dan kesinambungan, Ida Liana Tanjung merajut cerita perubahan Kota Palembang era kolonial sebagai pola yang paling besar porsinya. Tiga puluhan halaman narasi perubahan itu ia susun secara diakronis menjadi empat motif utama.




Simbol-simbol modernitas penulis petik dari berbagai sektor yang secara umum merupakan bagian dari proyek-proyek pembangunan kolonial. Seperti pembukaan jalur transportasi beserta introduksi berbagai wahana bertenaga mesin, pembukaan pasar di berbagai kawasan yang berarti meluasnya monetisasi atau ekonomi uang yang melibatkan dunia perbankan, pembangunan perumahan untuk orang-orang Eropa di kawasan Talang Semut; muncul pula pusat-pusat pertunjukan atau hiburan, pendirian menara tandon beton penyimpan sekaligus penyalur air bersih, dan lain sebagainya.


Sumber: Santun, Dedi Irwanto Muhammad. 2011. “Venesia dari Timur: Memaknai Produksi dan Reproduksi Simbolik Kota Palembang dari Kolonial sampai Pascakolonial”. Yogyakarta: Ombak. hlm. 284.


Akan tetapi, sebagian besar simbol-simbol modernitas secara fisik itu cenderung eksklusif pemanfaatannya bagi kalangan Eropa. Kenyataan itu menunjukkan bahwa proyek-proyek pembangunan kolonial justru mencipta ketimpangan di tengah masyarakat yang dibelah-belah berdasarkan ras.

Selain bangunan fisik, surat kabar juga menjadi sumber rujukan yang kaya. Ida Liana Tanjung secara jeli memilih iklan lampu dan mobil dalam surat kabar Pertja Selatan dari dekade 1920-an dan 1930-an sebagai representasi simbol-simbol modernitas. Dua produk modern yang bertautan dengan pembangkit listrik, pendidikan, jalanan darat beraspal, pengangkutan hasil perkebunan, dll. Bahkan surat kabar itu sendiri merupakan indikator modernitas.

Beberapa sumber menyebutkan bahwa surat kabar pertama di Palembang terbit pada tahun 1898, yakni Nieuws en Advertentie blad voor de Residentie Palembang, Djambi en Banka yang awalnya terbatas di lingkaran perusahaan pertambangan minyak bumi sekitar Palembang.






Perkembangan industri minyak di seputar Keresidenan Palembang inilah yang menyebabkan munculnya sebuah “kota dalam kota” Palembang. Itulah Plaju.

Ternyata bukan cuma air yang mengalir lewat sungai-sungai yang bermuara di Palembang, tapi juga minyak. Aliran minyak dari ladang-ladang emas hitam itu bermuara di kilang-kilang penampungan Plaju yang dikelola oleh Bataafse Petroleum Maatschappij (BPM) untuk kemudian dimasak dan dipasarkan.

Plaju tumbuh menjadi kota baru di pinggiran Sungai Musi pada kuartal pertama abad ke-20, karena aliran minyak mengundang aliran manusia yang hendak mencari peruntungan di tanah harapan.












Seperti minyak yang memendarkan warna-warni pelangi bila terpapar air, Palembang dan Plaju berkembang jadi kota berpenduduk multiras-multietnis.







Perihal kemajemukan menjadi salah satu simpul analisis penulis buku. Karena dimensi sosial ini berimplikasi pada ranah pemukiman, pendidikan, hingga kecenderungan mengonsumsi produk-produk baru seperti mobil, pakaian ala Eropa, bahkan pasta gigi dan sabun mandi yang dapat membentuk citra hidup modern. Berbagai pernak-pernik simbol modernitas itu Ida Liana Tanjung rangkai dengan satu simpul kemajemukan beserta catatan tentang ketimpangan akses di antara kelompok sosial khas kolonial.




Akhirnya tibalah saatnya mengucap sayonara pada kolonialisme.

Ulasan seputar periode revolusi fisik dan pertempuran di Palembang serta Plaju sudah banyak beredar. Saya ingin mengulas yang asyik-asyik aja, yakni proses dekolonisasi lewat perubahan nama-nama jalan yang Ida Liana Tanjung kupas di bab akhir buku.

Perubahan nama-nama jalan di Palembang merupakan peristiwa politis-simbolik usai masa penuh energi revolusi (1945-1950) di Indonesia. Khususnya setelah Belanda mengakui kemerdekaan Indonesia pada 27 Desember 1949 melalui Konferensi Meja Bundar.

Peristiwa itu Palembang rayakan secara simbolik lewat perubahan nama-nama jalan. Simbol utamanya ialah “Jalan Merdeka”.












Ada 43 nama baru yang menggantikan sedikitnya 44 nama jejalan lama di Kota Palembang. Daftar lengkap dapat diakses lewat tautan INI.

Meski begitu, tak semuanya baru.

Nama buah-buahan seperti Rambutanlaan, Jambulaan, Manggalaan, dan Sawolaan hanya berganti akhiran “-laan” jadi awalan “Djalan”. Riouwstraat, Billitonstraat, dan Bankastraat menjadi Jalan Riau, Jalan Beliton, dan Jalan Bangka.

Nama-nama yang benar-benar baru adalah yang sebelumnya berupa nama-nama bangsawan Belanda.




Wilhelmina dan Prins Hendrik menjadi Diponegoro.

Juliana jadi Kartini.

Willems jadi Supeno.




Beatrix jadi Indra.

Emma jadi Ratna.

Sophie jadi Joko.

Pilihan nama pengganti terbilang kreatif.

Dua nama pahlawan angkatan laut Belanda berganti nama-nama pahlawan Melayu: de Ruyter jadi Hang Tuah, sedangkan Tromp jadi Hang Suro.





Perubahan nama-nama jalan itu terjadi di kawasan Seberang Ilir Palembang, khususnya di seputar kawasan Talang Semut yang merupakan bekas kompleks perumahan orang-orang Eropa yang pernah menumbuhkan kecemburuan sosial di kalangan bumiputra.




Sedangkan di Seberang Ulu, khususnya Plaju, terjadi pengambilalihan rumah-rumah BPM oleh tentara. Hal serupa sebetulnya juga terjadi di Talang Semut. Perbedaannya, bukan cuma tentara yang mengambil alih aset-aset BPM, penduduk kampung sekitar perumahan BPM juga ingin turut ambil bagian.

Nama-nama jalan di kompleks perumahan BPM juga tak mengalami perubahan drastis, karena nama-nama itu memang sudah dalam bahasa Indonesia, berupa nama-nama bunga dan pepohonan. Perubahan yang cukup signifikan ialah mengganti nama Bataafse Petroleum Maatschappij menjadi Shell Petroleum. Sedangkan nama-nama jalan di kompleks perusahaan yang sebelumnya menggunakan istilah Belanda “weg” yang berarti “jalan”, berubah menjadi “road” dalam bahasa Inggris. Nama-nama jalannya sendiri tak mengalami perubahan.

Perubahan semacam itu juga nampak pada buku petunjuk telepon kawasan Palembang/Sumatera Selatan yang terbit tahun 1951 jika dibandingkan dengan keluaran 1949.





Judul edisi 1949 tertulis hanya dalam bahasa Belanda. Sedangkan edisi 1951 menggunakan bahasa Indonesia dan bahasa Belanda.

Edisi 1949 masih memuat lambang Hindia Belanda pada sisi kiri judul. Sedangkan pada edisi 1951 sudah tak ada lagi.

Pada tahun 1951 itu pula terbit buku berjudul “Petundjuk Kota Besar Palembang”.




Penerbitnya RHAMA Publishing House. RHAMA adalah akronim Raden Haji Muhammad Akib yang biasa ditulis RHM. Akib. Seorang keturunan ningrat Palembang berlatar pendidikan arsitek yang pernah menjadi pegawai kantor urusan pekerjaan umum Kota Palembang pada era Hindia Belanda.

Sehingga tidaklah mengherankan jika iklan pertama di balik sampul depan adalah perusahaan pemborong bangunan.




Sedangkan halaman 2 berisi promosi Biro ARCHITEK RHAMA yang membidangi proyek pembangunan kota.




Kembali ke sampul. Elemen-elemen ilustrasi sampul buku itu mirip gambar hiasan kain kenang-kenangan dari UNSRI kepada Freek Colombijn.




Imajinasi simbol modernitas Palembang seakan-akan baku, mulai dari ilustrator sampul buku RHAMA tahun 1951 hingga pengrajin kain Palembang tahun 1990-an. Ada imajinasi yang seragam bahwa simbol modernitas kota sungai besar adalah jembatan raksasa sebagai penghubung daratan yang seberang-menyeberang.

Meminjam pendekatan Dedi Irwanto, saya kira itu adalah wujud perubahan sekaligus kesinambungan konstruksi ideologis tentang kemajuan yang ditanam kolonial Belanda ketika mulai menimbun sungai. Simbol-simbol prestise sosial tak lagi pada bentuk dan ukuran perahu, atau warna serta motif dayung, karena kendaraan beroda dan bermesin sudah menjadi pesona baru bagi masyarakat jajahan. Sehingga, agar roda terus berputar, perlu ada jalan. Halangan air harus diatasi lewat jembatan. Dan bila perlu, penghalang harus hilang.

Saya menduga ada sindrom kota besar di Palembang pada dekade 1950-an. Simptom itu ada pada tulisan-tulisan tentang Palembang yang selalu bergandeng dengan predikat “Kota Besar”.

Buku kedua terbitan RHAMA Publishing House pada tahun 1956 menunjukkan gejala itu.





Ada nada ketidakpuasan atas pembangunan yang kurang memadai bagi Palembang yang berpredikat “Kota Besar”. Ada pula tulisan yang seolah-olah menagih janji pembangunan jembatan yang melintasi Sungai Musi.




Gejala itu menguat seiring eskalasi politik pergolakan daerah dekade 1950-an. Palembang menjadi salah satu lokasi titik didih luapan kekecewaan yang kemudian mewujud jadi gerakan PRRI-Permesta.

Perihal tarik menarik kepentingan antara Palembang dengan Jakarta serta antara Palembang dengan kubu PRRI sudah dibahas oleh Ryllian Chandra dalam buku “Kontestasi Politik di Palembang 1950-1960”.




Seperti air Sungai Musi yang keruh, ada banyak ikan besar di dalamnya.

Pembangunan besar-besaran terjadi di Palembang pada penghujung 1950-an dan awal 1960-an. Beberapa bangunan monumental dari era itu ialah Pasar Cinde (1958), Pabrik Pupuk Sriwijaya (1959), Universitas Sriwijaya (diresmikan tahun 1960), dan Jembatan Bung Karno yang kemudian menjadi Jembatan Ampera (selesai 1965).

Ida Liana Tanjung menyoroti penggunaan nama Sriwijaya pada Universitas Sriwijaya (UNSRI) dan Pupuk Sriwijaya (PUSRI). Terkait dua nama itulah ia berpendapat ada yang unik dan ambigu pada simbol-simbol modernitas Palembang.






Saya kira, munculnya keunikan dan ambiguitas itu sesungguhnya tak sepihak. Kalau mengutip Chairil Anwar, itu karena ada persetujuan dengan Bung Karno. Pembangunan Palembang pada masa senjakala kepemimpinan Bung Karno adalah buah-buah negosiasi Palembang dengan Pemerintah Pusat.

Begitulah kira-kira pembacaan saya (sebagai pedagang buku) atas karya Yuk/Mbak/Ito/Uni Ida Liana Tanjung.