| No comment yet

Sekanak - Sungai Rendang: Peta-Jalan Cerita "Gadis jang Dibikin Kapiran"


 

"Kapiran" bukan berarti "kafir", lho, ya.


"Kapiran" sama artinya dengan "telantar". 


Jadi, "Gadis jang Dibikin Kapiran" sama dengan "Gadis yang ditelantarkan".


Itulah judul roman karya "Tjia & Tan".


Anak judulnya: "Satoe hal jang sampe sekarang masih diboewat seboetan dan soedah kedjadian di Palembang dalem taon 1916".


Sumber: https://kitlv-docs.library.leiden.edu/open/Metamorfoze/Sino

Sepertinya cerita dari Palembang ini cukup diminati jika memperhitungkan pernah dicetak ulang, meski cuma sekali.


Pertama kali dicetak pada tahun 1919, oleh percetakan Thetenghoeij & Co. yang berlokasi di Bogor, meski penerbitnya berada di Gresik, yakni Boekhandel Pek Pang Ing.  




Sedangkan pada cetakan kedua, tahun 1924, nampak sudah berganti kongsi, yakni oleh penerbit Boekhandel Hoa Po Kongsie yang juga di Gresik.  


Sumber: https://catalog.hathitrust.org/Record/011261392

"Gadis jang Dibikin Kapiran" (GjDK) adalah salah satu roman karya peranakan Tionghoa yang menjadikan Kota Palembang sebagai lokasi cerita.


Selain itu, ada juga roman berjudul "Terloenta-loenta" karya Ong Siauw King, terbit tahun 1927, oleh penerbit/surat kabar Han Po yang berkantor di 16 Ilir Palembang. Ya, sebelum dibukukan, roman ini adalah feuilleton atau cerita bersambung di surat kabar Han Po. 



Seri ke-14 cerita bersambung "Terloenta-loenta" dalam surat kabar Han Po yang terbit pada hari Senin, 17 Oktober 1927.

Sumber: (Littrup, 2005: 165). http://bit.ly/3JlYF0D.

"Terloenta-loenta" bercerita tentang seorang aktivis asal Tiongkok yang datang ke Palembang, namun bernasib merana lantaran tak dapat pekerjaan.


(Adakah yang tiba-tiba teringat pada Khouw Ah Soe dalam "Anak Semua Bangsa" karya Pramoedya?)


Tahun 1931, "Resianja Satoe Gadis: Satoe Tjerita jang Belon Sebrapa Lamanja Terdjadi di Palembang" karya Peng Hong Tjio diterbitkan oleh Kho Tjeng Bie di Batavia.


Meski terbit belakangan setelah GjDK, dua roman tersebut belum berhasil saya dapatkan. Kecuali satu lagi, yakni roman berjudul "Souw Beng Nio, atawa Pembalesan boedi setjara semboeni" karya Oei yang diterbitkan di Surabaya oleh Tan's Drukkery pada tahun 1932.



Sumber: https://kitlv-docs.library.leiden.edu/open/Metamorfoze/Sino

Baru empat judul roman karya peranakan Tionghoa era Hindia Belanda tersebut yang dapat saya identifikasi ceritanya berlokasi di Palembang. Ada kemungkinan masih ada lagi, mengingat belum semua koleksi roman karya peranakan Tionghoa dengan kode M SINO dapat diakses secara bebas.


Lebih jauh ke belakang, karya penulis peranakan Tionghoa di Palembang sebetulnya sudah muncul sejak tahun 1877 dan 1882, meski bukan berupa roman, namun ajaran-ajaran keagamaan.     


Buku pertama berjudul "Yuli Baochao" atau "Tjoe In Giok Lek" atau "Kur'an Giok Lek". Buku ini merupakan terjemahan atas kitab yang populer di kalangan masyarakat Tionghoa, yakni "Yüli baochao quanshi wen" (玉歷寳鈔勸世文). Kitab berisi peringatan tentang akhirat ini memuat keterangan penerbitan di Palembang, meski dicetak di Singapura, pada tahun 1877. 


Sumber: (Proudfoot, 1993: 558) https://bit.ly/3uI36yJ.

Sedangkan buku kedua berjudul "Wenchang Dijun" terbit pada tahun 1882. Wenchang Dijun adalah nama Dewa Sastra bagi masyarakat Tionghoa. Barangkali seperti Saraswati dan Ganesha bagi penganut Hindu.


Sumber: Proudfoot, 1993: 553. https://bit.ly/3uI36yJ.

Kedua kitab itu dicetak batu (litografi) menggunakan aksara Jawi atau Arab-Melayu. Kolofon kitab "Kur'an Giok Lek" menyebut nama Baba Kwa Tek Ye sebagai seorang penerjemah yang mukim di Kampung 4 Ulu Palembang (Proudfoot, 1993: 558). Salmon (1985: 28; 2013: 235) mencatat, sejauh pelacakannya, nama tersebut adalah penerjemah pertama kitab berbahasa Cina ke bahasa Melayu beraksara Arab di Indonesia.


Sumber: (Salmon, 1985: 9).


Sumber: (Proudfoot, 1993: 611) https://bit.ly/3uI36yJ.

Jika pendapat Salmon itu benar, maka warga 3-4 Ulu Palembang layak bangga, karena kampung di sebelah kiri mudik Sungai Musi ini berhak menyandang gelar ganda. Pertama, sebagai lokasi penulisan dan penerbitan Al-Qur'an cetak tertua di Nusantara; Kedua, sebagai lokasi penerjemahan dan penerbitan kitab beraksara-bahasa Cina ke bahasa Melayu (aksara Jawi) pertama di Indonesia.  


Lebih lanjut Salmon menduga bahwa Baba Kwa Tek Ye (atau Koa Tek Ie alias Kwa Tiki Taka) adalah seorang Tionghoa Muslim. Selain melihat pilihan istilah-istilah koer'an dan mikraj sebagai bagian dari keterangan judul terjemahannya, dugaan Salmon kemungkinan besar benar, jika mempertimbangkan pula lokasi Kampung 3-4 Ulu yang memang pemukiman Tionghoa Muslim di Palembang. Keluarga Kiai Baba Azim Amin, pewaris Al-Qur'an Cetak Palembang 1848, adalah bagian dari komunitas Tionghoa Muslim yang selama sekian generasi bermukim di sekitar Sungai Saudagar Yuching Kampung 3-4 Ulu Palembang.


Kiai Baba Azim Amin dan Al-Qur'an Cetak Palembang 1848 yang merupakan Al-Qur'an cetak batu (litografi) tertua di Asia Tenggara. 
Foto: Dokumentasi Pekan Pustaka Palembang I. 
  


Lokasi Sungai Saudagar Yuching yang ditulis "S. Soedagar koetjing" pada peta tahun 1877.
Sumber gambar: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:816744. 

Rupanya tidaklah mengherankan bila kitab yang sering dijumpai di kelenteng-kelenteng tersebut dicetak dalam aksara Jawi. Karena kalangan Tionghoa di Palembang pada masa lalu memang pembaca tulisan Arab-Melayu. Sehingga tak ganjil pula bila ada tulisan Arab-Melayu dalam buku silsilah keluarga Kapitan Tjoa Ham Hin, Kapitan Cina terakhir di Palembang.

   

Tulisan Arab-Melayu dalam buku silsilah keluarga Kapitan Cina Palembang yang memuat keterangan tanggal 27 Rabiul-akhir 1271 yang bertepatan dengan 17 Januari 1855.
Foto oleh Mahandis Y. Thamrin/National Geographic Indonesia. https://bit.ly/3gOdfBA 

Sekali lagi, adalah suatu kelaziman bila orang-orang Tionghoa era Hindia Belanda merupakan pembaca tulisan-tulisan Arab-Melayu. Mereka bahkan berperan sebagai pemilik taman bacaan yang meminjamkan naskah-naskah beraksara Arab-Melayu di berbagai kota, salah satunya adalah Palembang (Proudfoot, 1993: 22). Jangan pula melupakan Kota Mentok, Bangka, yang juga pernah punya sebuah perpustakaan milik keluarga Mayor Chung A Tiam.


Sisa bangunan perpustakaan atau taman bacaan milik keluarga Mayor Chung A Tiam di Kota Mentok, Bangka. Plang bertulisan 操南書室 Cao Nan Shu Shi (PY).
Foto oleh Suwito Wu. Sumber: Grup Facebook - Heritage of Tionghoa Bangka.

Dengan kesadaran sejarah semacam itu, dapatlah kita anggap bahwa instruksi menghilangkan tulisan Arab-Melayu pada bangunan Tionghoa di Pulau Kemaro pada era orba merupakan tindakan yang ahistoris, bahkan rasis.   


Sumber gambar: Dokumentasi Kiai Baba Azim Amin.

Sebagai tambahan, koleksi antik Kemas H. Andi Syarifuddin berupa produk penerbit Kiao Pao di Palembang juga dicetak dalam aksara Arab-Melayu. 

 


Buku-buku antik bertulisan Arab-Melayu koleksi Ust. Kemas Andi Syarifuddin. Buku-buku ini merupakan produk percetakan milik keturunan Arab (al-Masawa) serta Peranakan Tionghoa (Kiao Pao) di Palembang awal abad XX.
Foto: Dokumentasi Pekan Pustaka Palembang I. 


Berita tentang rencana penerbitan surat kabar Tionghoa-Melayu: Kiao Pao.
Sumber: Surat Kabar Kemoedi, 15 Desember 1926. hlm. 2. 



Daftar percetakan/penerbit/toko buku di Palembang dari kalangan keturunan Arab, Bumiputra, Eropa, dan peranakan Tionghoa. Sumber gambar: Buku petunjuk telpon Palembang tahun 1939.  

Bahkan sebuah manuskrip Arab-Melayu (lagi-lagi koleksi KHAS) yang menjadi salah satu rujukan penting bagi Kiai Mal An Abdullah menulis biografi Syaikh Abdus-Samad Al-Palimbani pun merupakan buku tulis keluaran percetakan Ban Seng Hoeat Palembang.


Penjelasan tentang manuskrip "Faydh al-Ihsani" yang merupakan salinan sekaligus terjemahan oleh Nyayu Halimah pada tahun 1937. Naskah salinan ini diduga berdasarkan naskah awal yang ditulis oleh Syaikhah Fatimah al-Palimbani (anak dari Syaikh Abdus-Samad al-Palimbani). Naskah awal tersebut hingga kini belum ditemukan. Sumber: Abdullah, Mal An. 2019. "Syaikh Abdus-Samad al-Palimbani: Riwayat Hidup dan Warisan Keilmuan". Jakarta: EMK & Lembaga Kajian Naskah Melayu. hlm. 4-10. 


Sumber: (Abdullah, 2019: 6).


Sumber: Ikram, Achadiati (ed). 2004. "Katalog Naskah Palembang". Jakarta: YANASSA & TUFS. hlm. 255. 

Nah, sepertinya sudah cukup (melebar) uraian di atas perihal kiprah kalangan Tionghoa dalam dunia penulisan-percetakan-penerbitan di Palembang era Hindia Belanda. 


Mari kembali ke roman GjDK.


***

Cerita dibuka dengan ilustrasi situasi sore pukul lima lewat tiga, ketika para pegawai Borsumij pulang kerja.



Deskripsi lokasi perusahaan Borneo-Sumatra Handel Maatschappij (Borsumij) benar-benar sesuai dengan kenyataan. Hal ini dapat diperiksa pada peta dan foto-foto era Hindia Belanda.


Namun, sebelum lebih jauh menjelajahi lokasi cerita, mari kupas terlebih dahulu judul bab pertama roman, yakni: "Nji Marian dan Nji Roen".



"Nji" tersebut adalah "Nyai". Akan tetapi, sebutan itu tidaklah sama dengan "Nyai" yang merupakan panggilan kepada "Nenek" bagi orang Palembang. "Nji" atau "Nyai" dalam roman ini adalah sebutan untuk seorang gundik pada era Hindia Belanda.


Ya, sejak awal sudah nampak bahwa cerita GjDK merupakan bagian dari tema umum tentang pernyaian dalam roman-roman karya peranakan Tionghoa. Karena itulah pada paragraf pertama pengantar penulis menyapa "pembatja jang moelja" dengan peringatan:


"...ini tjerita tjoemah terbatja oleh orang-orang jang telah dewasa sadja, jaitoe; jang boekan djadi ANAK ANAK lagi."


Bagian pengantar yang kental dengan pesan moral itu juga memuat sinopsis cerita, sebagaimana dapat dibaca pada penggalan di bawah ini.



Sebelum mengakhiri bagian "permoelaian", penulis kembali mengajukan pemakluman isi cerita yang akan ditemui oleh pembaca.


"Lantaran itoe djadi njata bagi pembatja jang kita soedah karang ini tjerita boekan memandang sadja pada kaoentoengan. Biarpoen isinja sebagian ada menoetoerken perkara jang koerang pantas, tapi toch tida bisa disangkal ada mengandoeng satoe maksoed jang soetji."


Baiklah, kita sudahi saja basa-basi dari penulis GjDK yang barangkali bernada akrab bagi pembaca fiksi populer ala roman Medan. Catatan ini tak akan mengupas GjDK dari segi isi atau jalan ceritanya, akan tetapi mengeksplorasi lokasi yang tak biasa ditemui, yakni situasi Kota Palembang awal abad XX.


Kembali ke kantor Borsumij yang berada di Pasarstraat 16 Ilir tepatnya pada sudut pertemuan muara Sungai Rendang dengan Sungai Musi.


Inilah posisinya berdasarkan peta tahun 1922.




Silakan bandingkan dengan tampilan berdasarkan Peta Google di bawah ini.






Inilah penampakan Pasarstraat atau kini menjadi Jalan Pasar 16 yang dipotret dari kelokan depan kantor Borsumij pada tahun 1920-an. 


Pasarstraat dari kelokan depan kantor Borsumij. Sumber: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:896767 

Silakan bandingkan tampilan jalan serta bangunan pada lokasi yang sama berdasarkan foto tahun 1920-an itu dengan potret dari Peta Google tahun 2019 ini.  


Jl Pasar 16 di antara jembatan Sungai Rendang dan bekas kantor Borsumij.
Sumber: Peta Google, https://bit.ly/3HVJlY8.


Foto tahun 1920-an. Digunting dari koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:896767.


Sumber: Foto Peta Google tahun 2019, https://bit.ly/3HVJlY8.

N.V. Borsumij adalah salah satu dari lima perusahaan dagang berskala godzilla pada era Hindia Belanda. Embrionya adalah skenario ekspansi kapital lewat pendirian sebuah firma pada tahun kematian Karl Marx. Karena sirkuit modal perlu diperluas tak hanya di Pulau Jawa, maka perusahaan dagang titisan VOC Nederlandsche Handel-Maatschappij (NHM) bertransformasi jadi lembaga yang berfokus pada usaha perbankan yang berarti menjadi pengurus perputaran modal di Hindia Belanda. Seorang agen NHM bernama J.H. Schlimmer mewarisi kantor usaha NHM di Banjarmasin. Berbekal modal awal itulah Schlimmer mendirikan sebuah perkongsian bernama Schlimmer & Co. pada tahun 1883. Usaha Schlimmer dan rekanan itu kemudian meraksasa, sebagaimana nama dua pulau besar di Nusantara, setelah menjadi Borneo-Sumatra Handel Maatschappij pada 31 Maret 1894.


Dengan kantor pusat di Den Haag, Borsumij menggurita di sekujur Hindia Belanda. Editor buku "Arsip Ekonomi Belanda dan Koloninya" mencatat (secara agak berlebihan) bahwa pada tahun 1920, di seluruh kepulauan Nusantara (minus Papua), tak ada lagi tempat di mana Borsumij tak punya cabang. 


Kantor Pusat Borsumij di Den Haag. 
Sumber: Buku "Arsip Ekonomi Belanda dan Koloninya", https://bit.ly/352QzuM.


Peta sebaran cabang Borsumij di Hindia Belanda. Pada sudut kiri bawah adalah peta negeri Belanda dengan skala ukuran sebenarnya dibandingkan dengan Nusantara.
Sumber: Buku "Arsip Ekonomi Belanda dan Koloninya", https://bit.ly/33qOsk3
 

Kembali ke Jl. Pasar 16 Ilir, inilah foto kantor Borsumij cabang Palembang pada tahun 1920-an


Foto para pekerja di depan kantor Borsumij di Pasarstraat 16 Ilir Palembang tahun 1920-an.
Sumber: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:899140. 

Silakan bandingkan dengan fasad bangunan bekas kantor Borsumij berdasar foto dari Peta Google tahun 2019 ini.



 



Penampakan bekas kantor Borsumij yang kini menjadi PT. Garam (Persero).
Tepat di sebelah kanan kantor pos dalam foto ini adalah Sungai Rendang.
Sumber: Foto Peta Google tahun 2019, https://bit.ly/3oVZepX.  

Balik lagi ke cerita GjDK, halaman 19 memuat gambaran tentang situasi kawasan sepanjang jalan raya 16 Ilir pada malam hari.



Penulis roman menggunakan istilah "djalan raja". Ya, Pasarstraat 16 Ilir adalah salah satu ruas jalan di Palembang yang diperkeras dengan lebar lebih dari 4 meter. Meski sepertinya "perkerasan" itu bukan berarti "pengaspalan". Mengingat catatan Djohan Hanafiah (1988: 12) bahwa pengaspalan jalan sepanjang 20 km di Kota Palembang baru dilakukan pada era Burgemeester atau Wali Kota Richard Carl August Frans Joseph van Lissa Nessel (periode 1928-1933).


Perihal jejalan di Palembang yang sudah diperkeras dan layak dilalui oleh mobil, terlihat pada penggalan peta tahun 1922 yang disusun berdasarkan data tahun 1914-1915 di bawah ini.


Keterangan gambar berbagai jenis jalan pada legenda peta 1922. 


Ruas jalan berwarna merah dengan titik-titik putih adalah jalan raya yang sudah diperkeras dengan lebar lebih dari 4 meter.


Ruas jalan berwarna merah dengan titik-titik putih adalah jalan raya yang sudah diperkeras dengan lebar lebih dari 4 meter.


Dengan lebar lebih dari 4 meter, Pasarstraat 16 Ilir menjadi lalu-lintas yang ramai pejalan kaki serta pengendara sepeda dan mobil . Sehingga perlu ada polantas yang bertugas di jalan raya ini.

Nampak seorang polisi menggunakan topi sedang berjalan di Pasarstraat 16 Ilir. Foto diperkirakan pada awal 1900-an.  Sumber: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:784011.

Nampak semacam payung di muka Pasarstraat 16 Ilir yang menjadi tempat polantas bertugas.
Sumber: https://collectie.wereldculturen.nl. 
 

Tampak muka Pasarstraat 16 Ilir dengan fokus tempat polantas bertugas.


Tampak muka Pasarstraat dari pertigaan Kratonweg (Jl. Sultan Mahmud Badaruddin), Schoolweg (Jl. Palembang Darussalam), dan Pasarstraat (Jl. Pasar 16). Foto diperkirakan tahun 1935, ketika Sungai Tengkuruk sudah ditimbun. Sumber: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:919947.

Tampak muka Jl. Pasar 16 berdasarkan Peta Google tahun 2021.
Jika dibandingkan dengan foto-foto lama di atas, terlihat ada perubahan fasad bangunan.


Tampak muka Jl. Pasar 16 berdasarkan Peta Google tahun 2015, https://bit.ly/33vuyV8.

Jika itu gambaran tentang jalanan, maka perihal "lampoe panerangan di seantero wijk" pada halaman 19 GjDK sepertinya bukanlah lampu bertenaga listrik. Listrik baru menyala di Palembang pada tahun 1923, begitu bila merujuk Djohan Hanafiah (1988: 113). Memang tak ada keterangan lebih rinci dari Hanafiah mengenai apakah listrik sudah mengalir di kawasan pemukiman (wijk) atau masih terbatas pada lokasi tertentu seperti perkantoran dan pertokoan. 


Namun dapat diduga ada skala prioritas pembangunan infrastruktur penerangan untuk kawasan niaga dengan kawasan pemukiman warga. Silakan cermati lagi foto-foto muka Pasarstraat di atas, nampak tiang-tiang listrik sudah terpancang. 


Kalaupun lampu penerangan yang dimaksud dalam roman tersebut juga termasuk lampu penerangan jalan, sehingga penulis membayangkan orang-orang sedang melintasi jalan Pasar 16 di malam hari, maka barangkali itu adalah sejenis lampu yang nampak pada foto pinggiran Sungai Tengkuruk pada tahun 1910 yang dijadikan contoh oleh Djohan Hanafiah di bawah ini.


Sumber: (Hanafiah, 1988: 110)

Foto tahun 1910 itu kemudian Djohan bandingkan dengan foto tahun 1920 untuk memperlihatkan perubahan infrastruktur penerangan jalan di pusat Kota Palembang dalam dua dekade awal abad ke-20.


Sumber: (Hanafiah, 1988: 111 & 113).


Soal lelampuan dan perlistrikan di Palembang awal abad ke-20 ini masih perlu pemeriksaan lebih lanjut. Jadi mari kembali ke jalan Pasar 16 di mana terjadi obrolan tentang sebuah pertunjukan teater. 

  


Dari segi istilah, "bangsawan" yang dimaksud itu memang berawal dari seni pertunjukan bagi kalangan ningrat Melayu. Lantas meluas ke tengah masyarakat lantaran jadi bisnis hiburan yang dilakoni oleh kelompok-kelompok teater dengan melakukan pertunjukan di berbagai kota. Istilah "bangsawan" ini seringkali digandeng dengan kata "komidi/komedi/opera", maknanya sama dengan pertunjukan hiburan berupa teater.  


Kelompok teater bangsawan dari kalangan peranakan Tionghoa yang populer pada era Hindia Belanda ialah Soei Ban Lian. Kelompok teater bangsawan profesional ini berdiri tahun 1911 dan berasosiasi dengan organisasi Tiong Hoa Hwe Koan (THHK).       


Iklan pertunjukan teater bangsawan (opera) Soei Ban Lian di Batavia.
Sumber: Surat kabar Sin Po, 10 April 1920.  


Belum ditemukan berita atau iklan dalam surat kabar tahun 1916 mengenai pertunjukan Soei Ban Lian di Palembang. Jika merujuk keterangan dalam roman GjDK, tahun 1916 adalah pertama kalinya bangsawan Soei Ban Lian tampil di Palembang. 


Roman GjDK, hlm. 21.

   
Anak judul GjDK yang bunyinya "soedah kedjadian di Palembang dalem taon 1916" jadi kian meyakinkan ketika menemukan nama Nyonya Theng Poei Nio, istri dari Baba Sim Tek Bie yang adalah direktur opera Soei Ban Lian, juga disebut-sebut dalam roman ini.


Roman GjDK, hlm. 20.
Keterangan istilah: eigenares = direktris; dipacht = dikontrak..


Barangkali pembaca juga bertanya-tanya di manakah letak panggung pertunjukan bangsawan di Sekanak itu?


Roman ini memberi sedikit petunjuk sebagai berikut:





Tidak cukup mudah mengidentifikasi lokasi bangunan yang menjadi bangsal komidi bangsawan di kawasan Sekanak. Ada kemenduaan persepsi mengenai kawasan Sekanak sebagai lokasi rekreasi dan kawasan niaga.


Untuk yang pertama, sebetulnya sudah bermula sejak era kesultanan yang menjadikan area sebelah borotan keraton sebagai taman sari. 


Ilustrasi lanskap Keraton Palembang.
Sumber: Hanafiah, 1989: 17.


Area itu sempat bertahan sebagai tempat rekreasi masyarakat umum sampai kemudian diubah menjadi lokasi rekreasi yang terbatas bagi warga Eropa (Irwanto, 2010: 129).  


Sumber: Irwanto, 2010: 41.


Sumber: Irwanto, 2010: 129.


Societeit dan schouwburg di Palembang yang dimaksud oleh Irwanto itu adalah dua gedung tempat hiburan orang Eropa yang perencanaan pembangunannya dimulai sejak tahun 1925 kini bernama Balai Prajurit dan KBTR. Sebelum dua bangunan itu berdiri, sudah ada sebuah societeit di Palembang yang jika melihat angka pada fasad atap pelananya diduga ada sejak tahun 1872.

Bangunan societeit di Palembang. Foto tahun 1920.
Sumber: Koleksi Tropenmuseum, https://bit.ly/3sXxUJr.
    
Lokasi bangunan societeit pertama di Palembang itu dapat diidentifikasi pada peta tahun 1877 dan 1922 di bawah ini.


Lokasi bangunan societeit berdasarkan peta tahun 1877.

 
Lokasi bangunan societeit berdasarkan peta tahun 1922.
Nampak tak ada perubahan lokasi bangunan societeit sejak dekade 1870-an.


Lokasi bangunan societeit berdasarkan peta tahun 1930.
Nampak perubahan letak societeit berdasarkan bangunan baru yang diresmikan pada 8 Desember 1927 (https://bit.ly/3v5XtKH).

Dengan demikian, kawasan hiburan di sebelah ilir/timur Sungai Sekanak bukanlah lokasi yang sesuai dengan karakter hiburan rakyat ala komidi bangsawan Soei Ban Lian. Mengingat pula catatan Irwanto bahwa akses ke societeit terbatas bagi kalangan Eropa.   


Maka kita perlu menyeberang jembatan Sungai Sekanak ke arah barat laut yang mana sepanjang Jl. Depaten Baru terdapat Pasar Sekanak, deretan pertokoan dan kantor perusahaan milik kalangan Tionghoa, hingga ke persimpangan di mana terdapat bangunan eks Bioskop Rosida.




Mari cermati lagi deskripsi lokasi panggung bangsawan dalam halaman 20 roman GjDK.
 



Keterangan bahwa perahu-perahu berlabuh di pinggir Sungai Musi yang berada di sebelah kanan panggung bangsawan memberi petunjuk bahwa "pernahnja" (letaknya) panggung bangsawan berada dekat pinggiran Sungai Musi.




Dugaan ini diperkuat oleh deskirpsi pada halaman 21 mengenai lokasi panggung bangsawan yang berseberangan dengan Kampung 5 Ulu.


Deskripsi tentang lokasi panggung bangsawan Soei Ban Lian.
Roman GjDK, hlm. 21.


Seberang menyeberang antara lokasi yang diduga letak panggung bangsawan Soei Ban Lian dengan Kampung 5 Ulu berdasarkan peta tahun 1922. Deretan kotak-kotak berwarna kuning dengan garis luar berwarna merah di pinggiran Kampung 5 Ulu adalah rumah-rumah rakit.  

Berdasarkan peta 1922, lokasi yang diduga sebagai panggung bangsawan dalam cerita ini adalah sebuah bangunan yang di belakangnya adalah sebuah "Ijsfabriek" (pabrik es). Pengumuman dalam surat kabar Kemoedi mengenai es gratis dari pabrik es dan limun di kawasan Sekanak beserta keterangan "GOEDANG BANGSAWAN" menjadi pendukung dugaan bahwa lokasi panggung bangsawan dalam roman ini ada samping pabrik es Sekanak.

Sumber: Surat kabar Kemoedi, 1 November 1926.

Ya, perkiraan lokasi itu masih dapat dipertanyakan kebenarannya.


Sekarang mari lanjutkan perjalanan. 


Halaman 32.


Roman ini berkali-kali menyebutkan tentang sebuah kendaraan roda dua bertenaga manusia yang dinamakan langtjia atau rickshaw. Jika kita periksa foto-foto Kota Palembang era Hindia Belanda, ada banyak gambar langtjia.


Foto diperkirakan pada tahun 1900.
Sumber: Koleksi KITLV, http://hdl.handle.net/1887.1/item:693327.
   

Ilustrasi Langtjia.
Sumber: Hanafiah, Djohan. 1988. "Palembang Zaman Bari: Citra Palembang Tempo Doeloe". Palembang: Humas Pemkot. hlm. 44.

Langtjia pernah menjadi persoalan bagi kalangan peranakan Tionghoa. Bahkan Perkumpulan Pedagang Tionghoa Palembang pernah meminta bantuan THHK untuk menghapus keberadaan langtjia di Palembang karena dianggap merendahkan martabat kemanusiaan, mengingat para penarik langtjia umumnya adalah orang-orang Tionghoa.


Sumber: Nio Joe Lan, 1940: 181.

Kampanye Tiong Hoa Tjong Siang Hwee Palembang berhasil. Organisasi ini tidak sekadar meminta penghapusan langtjia yang tentu saja akan menghilangkan pekerjaan bagi para penariknya, namun juga menggalang dana untuk membantu mereka yang (akan) kehilangan pekerjaan lantaran penghapusan itu.


Sumber: Han Po, 4 Agustus 1927.

Sekali lagi, mari simak halaman 32 yang memuat tentang perjalanan menggunakan langtjia.



Beginilah perkiraan rute perjalanan langtjia sebagaimana dideskripsikan dalam halaman 32 di atas.











Jika diukur jaraknya sekitar 2,6 km.   




Demikianlah peta-jalan cerita GjDK dari Sekanak hingga Sungai Rendang.


Sebetulnya ada beberapa deskripsi lokasi di Kota Palembang awal abad ke-20 dalam roman GjDK yang masih dapat ditelusuri. Tetapi untuk saat ini cukuplah sampai di sini. 


Sampai jumpa lagi.
| No comment yet

Kembara Naskah Palembang di Johor



Johor barangkali dapat dianggap sebagai tanah air kembara bagi orang Palembang. Ini anggapan berdasarkan catatan sejarah kembara Parameswara. Setelah dari Tumasik dan Muar, kafilah Parameswara akhirnya berlabuh di Malaka. Perkampungan nelayan ini kemudian berkembang jadi bandar dagang setelah kerajaan Malaka berdiri pada 1404 (Abdullah, 2021: 17-43).


Gegara Portugis merebut Malaka pada tahun 1511, keturunan Parameswara terpaksa ‘melayau’ ke berbagai pulau seputar Riau, sampai akhirnya menepi di lembah Sungai Johor dan menahbiskan kekuasaan baru pewaris dinasti Malaka, yakni Kesultanan Johor.


Sungai Johor, sebagaimana juga Sungai Musi bagi Palembang, merupakan situs arkeologis bagi Johor hari ini. Salah satu titiknya ialah Johor Lama di tebing sebelah kanan mudik Sungai Johor. Johor Lama kini menjadi salah satu mukim dalam Distrik Kota Tinggi.


Laman tentang Muzium Kota Tinggi dalam situs Yayasan Warisan Johor memuat keterangan bahwa Kota Tinggi adalah tapak sejarah Kesultanan Johor dalam kurun tak kurang dari 400 tahun. Di kawasan lembah sungai yang bermuara ke Selat Johor inilah Tun Sri Lanang dilahirkan. Ya, dia yang menyusun “Sulalatus Salatin" dan menyebutkan tentang Bukit Seguntang Palembang sebagai asal-usul raja-raja Melayu.


Catatan Kelana Naskah*


Satu dekade yang lalu, Annabel Gallop melawat ke Johor. Di Museum Kota Tinggi ia menyaksikan puluhan manuskrip Arab dan Melayu. Lalu ia menulis artikel berjudul “Malay Manuscripts in Johor”. Tulisan itu memuat deskripsi sebagaimana lazimnya ada dalam katalog naskah koleksi perpustakaan atau museum. Sehingga dapatlah dikatakan bahwa tulisan itu semacam “manuscripts travelogue”.


Sumber gambar:
Southeast Asia Library Group Newsletter No. 53 / Dec 2021. http://www.sealg.org/pdf/newsletter2021.pdf  

Dari puluhan naskah koleksi Museum Kota Tinggi yang Gallop deskripsikan berurutan secara alfabetis, ia menduga, juga memastikan, beberapa di antaranya adalah manuskrip yang berasal dari Palembang. Catatan di blog ini hanya akan memerikan tiga naskah, yakni manuskrip D, K, dan L.


Manuskrip D


Manuskrip ini merupakan salah satu dari tujuh buah Al-Qur’an antik di Museum Kota Tinggi. Dari tujuh koleksi itu, ada tiga yang Gallop anggap berasal dari Sumatera. Berdasarkan tampilan blok teksnya yang tinggi-lampai dan kekhasan pola sampulnya, Gallop menduga dua dari tiga Al-Qur’an ini berasal dari Minangkabau.


Contoh pola umum dekorasi sampul naskah Minangkabau berdasarkan koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (LOr 2014) yang berangka tahun 1850. Sumber gambar: Plomp (1993: 582).



Manuskrip B dengan pola dekorasi jilidan khas Minangkabau. Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 36.


Jika merujuk artikel Plomp yang  memuat ragam pola dekorasi sampul naskah-naskah dari berbagai daerah di Indonesia, manuskrip Minangkabau memang distingtif dibandingkan dengan sampul-sampul naskah asal Madura, Banten, dan Palembang yang tipis-tipis bedanya. Baik dari segi (1) pola bingkai; (2) ornamen sudut; (3) bentuk kuncup; hingga rupa relief (4) medali di tengah-tengah sampul kulitnya.

Sumber gambar: Plomp (1993: 573).


Meski begitu, salah satu dari tiga Al-Qur’an antik ini, yakni manuskrip D, berpenampilan beda dengan pola sampul naskah Minangkabau pada umumnya.

 

Manuskrip D yang diduga berasal dari Minangkabau, namun memiliki dekorasi sampul serupa naskah Palembang. Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Annabel Gallop.  


Tiga lapis bingkai bergaris ganda pada dua halaman awal manuskrip D. Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 37.


Selain deskripsi bahwa naskah ini memiliki pembeda berupa tiga lapis garis-ganda yang membingkai teks pada halaman-halaman pembuka, belum ada petunjuk lebih lanjut untuk memperkuat dugaan asalnya dari Palembang. Ini berarti, sejauh ini, jilidan jadi pertimbangan utama dalam mengidentifikasi manuskrip D yang tak memuat keterangan tertulis perihal asal-usulnya.


Soal ini barangkali adalah pekerjaan rumah bagi manuskripter Palembang. 


Baiklah, mari lanjut ke naskah-naskah berikutnya.


Manuskrip K & L


Selain koleksi berupa tujuh buah Al-Qur’an (kode A-G) dan beberapa kitab tata bahasa Arab yang lagi-lagi diduga dari Minangkabau, Museum Kota Tinggi juga punya dua salinan naskah “Maulid Syarofal Anam", naskah yang populer di nusantara karena jadi teks rujukan ‘paduan suara dan gerak’ pembacaan sholawat dalam tradisi perayaan maulid nabi. Kedua naskah berisi sholawat ini berbahasa Arab.


Manuskrip K terbilang besar ukurannya: 36 x 23 cm. Silakan bandingkan dengan kertas A4 yang berukuran standar: 21 x 29,7 cm. Dikarenakan menggunakan kertas bertanda-air ‘STACEY WHITE 1818’, Gallop memperkirakan manuskrip ini ditulis dalam rentang dasawarsa 1820-an. 


Iluminasi bermotif bingkai berbunga-bunga aneka warna (biru, kuning, merah, dan hitam) pada naskah ini elok sekaligus tak lazim baginya. Kekhasan itu membuat ia tak mudah memastikan dari mana manuskrip K berasal. Tapi Gallop punya petunjuk lain, yaitu penggunaan warna biru serta kebiasaan pola sampul naskah Palembang.


Iluminasi pada manuskrip K yang penuh warna. Penggunaan warna biru pada iluminasinya dan pola sampulnya (gambar di bawah) menjadi satu petunjuk untuk menduga asal naskah ini dari Palembang. Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 43.

Manuskrip K, kitab "Maulid Syaroful Anam" berukuran besar dengan sampul ala Palembang. Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 44.


Sekali lagi, Gallop menyugesti bahwa manuskripter dapat mengidentifikasi naskah asal Palembang berdasarkan ciri-ciri fisiknya, khususnya jilidan atau pola sampul naskah. Secara intuitif, saya sepakat dengan dugaan Gallop. Mudah-mudahan nanti akan ada tambahan informasi untuk memperkuat dugaan ini.


Selanjutnya, manuskrip L. Kali ini Gallop beranggapan lebih pasti, bahwa naskah salinan “Syarofal Anam” yang berukuran lebih kecil dari naskah sebelumnya, namun kaya dekorasi beragam warna, jelas-jelas berasal dari Palembang. Selain sampulnya yang khas Palembang, perihal asal naskah ada pada kolofonnya yang memuat informasi nama penyalin, pemilik, serta lokasi dan waktu selesai penyalinan.


Sampul manuskrip L, kitab "Syarofal Anam" asal Palembang.
Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 46.

Kolofon manuskrip L bagian pertama, kitab "Syarofal Anam" asal Palembang.
Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 46.


Kolofon manuskrip L bagian kedua, kitab "Syarofal Anam" asal Palembang.
Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 46.


Berikut ini transliterasi kolofon manuskrip L:


tarikh nabi s.a.w. seribu dua ratus lima puluh satu dan kepada tahun ba dan kepada tujuh hari ublan Rajap dan kepada hari Jumaat masa itulah sudah selesai Maulud Nabi s.a.w. Nyayu[?]Irang Kampung / Dua Puluh Dua Ilir Kiagus Muhammad ‘Aqip adanya”.


Selain teks kolofon bertinta hitam tersebut, ada teks keterangan tambahan yang ditulis menggunakan pensil sebagai berikut:

 

dua (?) alamat surat sampai kepada adinda Muhammad Kusin.”


Berdasarkan dua teks keterangan itu dapat diketahui bahwa Kiagus Muhammad Akib selesai menyalin naskah ini pada 7 Rajab 1251 Hijriah atau 29 Oktober 1835 di Kampung 22 Ilir Palembang. Nampaknya Akib menyalin naskah berdasarkan pesanan Nyayu Irang. Sedangkan keterangan tambahan yang memuat panggilan ‘adinda’ sebelum nama Muhammad Kusin dapat jadi petunjuk untuk menduga bahwa Nyayu Irang adalah perempuan yang ‘dituakan’ (kalaupun bukan sebagai ‘yunda’ atau kakak perempuan) bagi Muhammad Kusin. Dengan demikian, keterangan tambahan itu Nyayu Irang tulis sebelum naskah ia berikan kepada Muhammad Kusin. Untuk itu, Nyayu Irang tentu punya cukup modal membeli kertas, tinta, serta kulit sampul; dan jika benar bahwa penyalinan naskah ini adalah kerja profesional, maka ia juga harus membayar upah penyalinnya.**


Selain sekali lagi merujuk Plomp tentang jilidan naskah Palembang, Gallop juga menambahkan contoh pembanding dari segi iluminasi, yakni kitab "Maulid Syarofal Anam” koleksi Kemas Andi Syarifuddin dalam Katalog Naskah Palembang  (Ikram, 2004: 175).***


Halaman-halaman beriluminasi dalam manuskrip L, naskah "Syarofal Anam" dari Palembang. Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53 / Des 2021, hlm. 45.


Halaman-halaman beriluminasi dalam manuskrip L, naskah "Syarofal Anam" dari Palembang. Sumber gambar: Dokumentasi pribadi Annabel Gallop.

Contoh pembanding berupa iluminasi atau 'headpieces' pada dua halaman pertama naskah ""Syarofal Anam" koleksi Kemas Andi Syarifuddin di Palembang. Sumber & keterangan gambar: Ikram (2004: 174-175). Gambar ini dicetak hitam-putih dalam buku "Katalog Naskah Palembang".

Sebagai bonus, di bawah ini saya tampilkan beberapa sampul naskah Palembang.


Silakan pemirsa bandingkan dan simpulkan.


KIRI: Sampul naskah "Syair Raja Mambang Jauhari" karya Pangeran Bupati Panembahan (adik dari Sultan Mahmud Badaruddin II).
Sumber gambar: Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (Or. 1896). http://hdl.handle.net/1887.1/item:2038807.
KANAN: Sampul naskah "Syair Sinyor Kista (atau Kosta) yang disebut sebagai karya Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sumber gambar: Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (Or. 1895). http://hdl.handle.net/1887.1/item:2078001 

KIRI: Sampul naskah "Syair Ken Tambuhan".
Sumber gambar: Koleksi Perpustakaan Universitas Leiden (Or. 3375). http://hdl.handle.net/1887.1/item:2044545.
KANAN: Sampul kitab "Ihya Ulumuddin" yang dicetak tipografi oleh percetakan al-Habsyi pada tahun 1864 di Palembang.
Sumber gambar: Koleksi Perpustakaan Umariyah, Palembang. 

KIRI: Kitab "Dalail Khairat" yang pernah menjadi koleksi Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sumber gambar: Koleksi Perpustakaan Universitas Leipzig.
https://www.islamic-manuscripts.net/receive/IslamHSBook_islamhs_00012174
KANAN: Kitab "Qowaidil Aqoid Ma Huwa Tsaniy min Kitab Ihya Ulumuddin" yang pernah menjadi koleksi Sultan Mahmud Badaruddin II.
Sumber gambar: Koleksi Sayid Muhammad bin Syeh Alhabsyi, 13 Ulu Palembang.
http://jurnal.radenfatah.ac.id/index.php/Ampera/article/view/7711/3598.

KIRI: Sampul mushaf Al-Quran tulis tangan dari pertengahan abad ke-18.
Sumber gambar: Koleksi Kemas Andi Syarifuddin.
KANAN: Sampul Al-Qur'an Cetak Palembang 1848.
Sumber gambar: Koleksi Museum Sultan Mahmud Badaruddin II.


Meski sudah memerikan tiga manuskrip koleksi Museum Kota Tinggi yang dua di antaranya (manuskrip D & K) diduga berasal dari Palembang; sedangkan manuskrip L jelas-jelas naskah Palembang; catatan tak berhenti sampai di sini. Ada catatan tambahan dari Gallop tentang manuskrip M yang ia anggap penting sebagai contoh tentang penyalinan dan penyebaran manuskrip antarpulau di Nusantara.


Kolofon manuskrip M yang merupakan salinan oleh Encik Ismail atas naskah milik Pangeran Dipati dari Palembang. Disalin di Batavia pada tahun 1822.
Sumber gambar: SEALG Newsletter, No. 53/Des 2021, hlm. 49.

Perihal itu dapat dibaca dengan baik pada kolofonnya sebagai berikut:


"dan adalah surat ini Encik Ismail ibn Muhammad juru tulis Engku Sayid Muhammad Zain tatkala pergi ke Betawi duduk / di dalam Kampung Kerukut Jawa diambil kepada Pangiran Dipati Palembang disalin daripada kitabnya, adalah Pangiran Dipati itu duduk bersama-sama di dalam Kerukut Kampung Jawa itu, adapun Encik Ismail waktu menyuratnya itu iaitu kepada dualapan belas hari bulan Zulkaidah pada hari Selasa kepada jam pukul sembilan adanya fi al- tarikh al-sanat 1237".

 

Encik Ismail adalah juru tulis bangsawan Riau bernama Engku Sayid Muhammad Zain yang bertemu priyayi Palembang bernama Pangeran Dipati di Kampung Krukut, Batavia. Pertemuan itu rupanya bukan cuma kongko-kongko para literati sembari minum kopi di kampung Arab, namun juga peristiwa kopi naskah milik orang Palembang, oleh penulis Riau, di Pulau Jawa. Encik Ismail selesai menyalin naskah itu pada hari Selasa, 6 Agustus 1822, pukul 9 pagi.

Jika Encik Ismail dan Engku Sayid Muhammad Zain dapat diketahui secara cukup pasti, lain halnya dengan sang Pangeran Dipati. Meski dari gelarnya dapat diduga profilnya, mengingat "pangeran" di Palembang adalah status bagi orang-orang dalam lingkaran istana.

Setidaknya ada dua kemungkinan kedudukan bagi seseorang yang bergelar "pangeran" di Keraton Palembang. Pertama, sebagai anak kandung sultan. Kedua, sebagai gelar pejabat teras istana. Sedangkan gelar ‘Pangeran Adipati’ dalam beberapa naskah Melayu berarti ‘Menteri Pertama’ atau ‘Perdana Menteri’ (Wargadalem, 2012: 50).

Persoalannya, dalam rentang tahun 1800 hingga 1820-an, sedikitnya ada tiga orang priyayi di Keraton Palembang yang menyandang gelar "Pangeran Adipati" (Wargadalem, 2012: 275-276). Saya menduga "Pangeran Dipati" yang Encik Ismail tulis itu adalah Pangeran Bupati (lebih lengkapnya adalah Pangeran Panembahan Bupati Hamim) yang juga pernah bergelar sebagai Pangeran Adipati Tuo. Pangeran Bupati ini adalah adik dari Sultan Mahmud Badaruddin II.  

Manuskrip milik "Pangeran Dipati" yang Encik Ismail salin merupakan kitab berisi teks zikir, ikhtisar ajaran tasawuf, serta syair. Berdasarkan isi naskah itulah saya menduga "Pangeran Dipati" yang Encik Ismail tulis adalah Pangeran Bupati. Mengingat ia adalah anggota keluarga Kesultanan Palembang yang juga dikenal sebagai penulis "Syair Patut Delapan", sebuah karya sastra dalam genre syair sufistik, serta beberapa judul kitab lain (Drewes, 1977: 226-7). Hal itulah yang membedakan ia dengan kakaknya, Sultan Mahmud Badaruddin II yang cenderung menulis syair romantis. 

Ya, tentu saja dugaan itu masih perlu diperiksa lebih lanjut.

Catatan akhir


Gallop sebetulnya tak sekadar mendeskripsikan koleksi manuskrip di Museum Kota Tinggi, ia juga menawarkan metode kepada manuskripter ketika menghadapi manuskrip tanpa kolofon atau menemui kekosongan kolom asal-usul pada tabel inventarisasi koleksi manuskrip di museum atau perpustakaan. 


Pertama-tama ia mencermati ciri-ciri fisik naskah, baik berupa tampilan blok teks, gaya dan warna iluminasi, jenis kertas, hingga pola dekorasi jilidan/sampulnya. Catatan dari Johor menunjukkan bagaimana Gallop mengelompokkan manuskrip berdasarkan ciri-ciri tersebut. Seperti pada kelompok koleksi Al-Qur'an asal Minangkabau. Sehingga jika ada manuskrip yang cenderung serupa dengan suatu kelompok koleksi yang sudah dikenali ciri-cirinya, maka ia memasukkan manuskrip tanpa keterangan asal-usul ke dalam kategori koleksi yang sudah ia identifikasi.  


Kendati demikian, selalu saja ada satu-dua-tiga naskah yang tak dapat segera dimasukkan ke dalam suatu kategori. Sehingga harus dibuatkan kelompok tersendiri atau diberi keterangan tanda tanya. Setiap upaya klasifikasi, seketat apapun, hampir pasti muncul kategori serba-serbi atau aneka ragam, seperti yang juga dialami oleh Sutaarga dkk ketika menyusun "Katalogus Koleksi Naskah Melayu Museum Pusat Dep. P. dan K.".


Sumber gambar: Sutaarga dkk (1972, xviii).

Demikian catatan ini yang merupakan semacam saduran atas artikel Gallop mengenai manuskrip melayu di Johor. 

Semoga bermanfaat. 

###


*Informasi lebih lanjut mengenai kelana naskah Palembang dapat dirujuk ke tulisan-tulisan berikut ini:

Muhammad Kelanah - Pengumpul dan Penyalin Manuskrip Abad ke Sembilan Belas.

Palembang Kraton Manuscripts.


**Informasi lebih lanjut mengenai penyalinan dan aspek ekonomi manuskrip serta buku cetak awal di Palembang dapat dirujuk ke artikel-artikel berikut ini:

A Pioneer Publisher in Palembang, 1905”.

On the Edge of a Tradition: Some prolegomena to paratexts in Malay rental manuscripts.

Penyalinan Naskah Melayu di Palembang: Upaya Mengungkap Sejarah Penyalinan.

Running a Lending Library in Palembang in 1886 AD.

Tradisi Penyalinan Naskah Islam Palembang: Ditinjau dari Perspektif Ekonomi. 


***Informasi lebih lanjut mengenai naskah dan tradisi syarofal anam di Palembang dapat dirujuk ke tulisan-tulisan berikut ini:

Kajian Naskah “Syaroful Anam ”Koleksi “Kms. H. Andi Syarifudin, S.Ag.

Seni Syarofal Anam di Kota Palembang.

Syarofal Anam: Fungsionalisme Struktural pada Sanggar Annajjam Kota Palembang.




| No comment yet

Buku-buku Perang Palembang


 

Tahun 1996, buku berjudul "Mamang dan Belanda" karya Jousairi Hasbullah terbit. Dalam buku itu ia menyinyalir tentang buku-buku Palembang yang cenderung bertema perang dan kepahlawanan.


Begini lengkapnya:


"Perjalanan selama 51 tahun sebagai bangsa merdeka, barangkali merupakan waktu yang cukup untuk dengan tenang merenungkan masa yang silam. Tidak hanya dari perspektif kepahlawanan dan "perang" saja, melainkan dari berbagai dimensi berbangsa di masa lalu. Barangkali bijak, jika kita pun merenungkan masyarakat kita sendiri, terutama dimensi sosio-kulturalnya."


Gambaran serupa juga ditangkap oleh Ida Liana Tanjung ketika meneliti sejarah Palembang untuk tesis S2 di UGM yang selesai tahun 2006. Tahun 2019 hasil penelitiannya itu dibukukan oleh Ombak. Dalam kata pengantar bukunya itu ia menulis sebagai berikut:


"Pada awal-awal penelitian, pencarian sumber lebih banyak dilakukan di berbagai perpustakaan di Yogyakarta seperti perpustakaan Ignatius, Sonobudoyo, Hatta, Fakultas Ilmu Budaya UGM dan Pusat Studi Asia Tenggara. Sangat disayangkan, sedikit sekali literatur Palembang yang dimiliki oleh perpustakaan-perpustakaan tersebut. Sebagian besar literatur akhirnya lebih banyak diperoleh dari Perpustakaan Nasional di Jakarta dan Perpustakaan Daerah Palembang. Persoalan utama yang dihadapi kemudian adalah sebagian besar buku-buku tentang Palembang lebih banyak terfokus pada sejarah perjuangan Kota Palembang, sedangkan yang mengulas tentang Kota Palembangnya sendiri sangat jarang."


Saya kira mereka benar adanya jika melihat jumlah judul buku sejarah Palembang bertema "perang", "kepahlawanan", dan "perjuangan".


Sedikitnya ada 9 judul buku bertema itu ketika Jousairi Hasbullah menerbitkan bukunya pada tahun 1996. Tentu masih perlu kajian lebih lanjut berupa perbandingan antara tema perang/kepahlawanan/perjuangan dengan tema-tema lain. Namun jika cakupan dipersempit pada bidang sejarah, maka buku-buku yang melibatkan tindakan menggunakan senjata itu memang dominan.


Dua nama yang menonjol dalam daftar buku itu ialah Asnawi Mangku Alam (Gubernur Sumatera Selatan periode 1967-1978) dan Djohan Hanafiah. Jika Asnawi cenderung menulis peristiwa perang era revolusi bersenjata, Djohan melacak hingga era kesultanan.


Dari semua judul nampak ada dua perang legendaris dalam sejarah Palembang, yakni "Perang Menteng" dan "Pertempuran Lima Hari Lima Malam". Frekuensi penerbitan buku yang paling tinggi ialah buku-buku yang memuat sejarah dua peristiwa itu.


Kesusastraan tentang perang berjudul "Syair Perang Menteng" dari era kesultanan berkali-kali direproduksi, baik sebagai monografi maupun sebagai bagian dari sebuah buku. Setiap dekade sejak 1960an hingga 2010 selalu terbit edisi baru tentang Perang Menteng atau Perang Palembang. Belum lagi bila memperhitungkan karya-karya berupa skripsi hingga disertasi yang mengupas beragam segi peristiwa itu.


Perlu diberi catatan bahwa buku awal yang memuat hasil pembacaan filologis atas naskah syair itu terbit tahun 1967, karya Atja Danasasmita. Kepakaran Drs. Atja itulah yang membuat ia terlibat sebagai salah seorang pembahas utama dalam serial diskusi untuk menyusun "Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II". Karya Mang Atja itu terbit lagi tahun 1994, di Palembang. Karya pertama tahun 1967 pasti sudah sangat langka. Saking langkanya, bahkan Google di laptop saya tidak menemukan gambar sampulnya. 








Sedangkan reproduksi kisah heroik pertempuran Lima Hari Lima Malam cukup bervariasi, karena juga berupa cerita bergambar dan berwarna, ada dua versi pula.  Generasi angkatan bersenjata memang serius menanamkan peristiwa itu sebagai memori kolektif di kalangan generasi muda. Edisi terakhir tentang peristiwa itu terbit 2012 yang lalu, oleh Dinas Sejarah Angkatan Darat.













Maka tak heran bila satu dekade setelah penerbitan buku Jousairi Hasbulah, Ida Liana Tanjung masih menemukan pola tema serupa dalam daftar pustaka sejarah Palembang. 


Bukan berarti tema semacam itu tak perlu lagi ditulis. Barangkali persoalannya adalah kejenuhan isi buku-buku semacam itu yang cenderung berupa glorifikasi tokoh dan kejayaan masa lalu atau kisah-kisah tentang 'aku yang terlibat dalam perjuangan'. Ada banyak aspek yang masih dapat ditulis terkait peristiwa-peristiwa perang di Palembang, seperti pengetahuan tentang teknologi perang serta aspek-aspek (atau dampak-dampak) sosial, budaya, ekonomi, hingga ekologi akibat perang.    


Untuk saat ini cukuplah dikatakan bahwa bukan cuma buku-buku tentang angkatan-angkatan bersenjata yang masyarakat butuhkan. Perlu pula perihal angkatan lain yang berpengetahuan mengelola kawasan gambut secara lestari dan bermanfaat bagi semua makhluk. Perihal mereka yang mengerjakan kebun-kebun tuan kebun. Para perajin logam dan kayu di guguk-guguk masa kesultanan. Hingga nelayan, bahkan para lanun yang posisinya jauh di pinggiran. Ada masih banyak lagi.











Daftar Pustaka Perang Palembang

1967

"Sjair Perang Palembang: Gelora Perlawanan Rakjat Palembang terhadap Kolonialis Belanda antara Tahun 1811-1821"

Atja Danasasmita

Museum Pusat, 1967

1980

"Sejarah Perjuangan Sri Sultan Mahmoed Badaredin II"

RHM. Akib

Palembang, 1980

1981

"Risalah Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II"

Tim Perumus Hasil-Hasil Diskusi Sejarah Perjuangan Sultan Mahmud Badaruddin II 

Pemprov Sumatera Selatan, 1981

1982

“Peristiwa Pengibaran Merah Putih Tanggal 6 September 1945 di Gedung Menara Air Palembang”

Team VII dari Cabang Angkatan 45

Pemkot Palembang, 1982

1983

"Sejarah Perlawanan terhadap Imperialisme dan Kolonialisme di Daerah Sumatra Selatan"

T. Ibrahim Alfian dkk

Depdikbud, 1983

“Pertempuran 5 Hari 5 Malam di Palembang”

Warnak Tohir

T.P., 1983

1985

"Perang Kota 120 Jam Rakyat Palembang"

Asnawi Mangkualam

Grafitas Offset, 1985

1986

"Perang Palembang 1819-1821:

Perang Laut Terbesar di Nusantara"

Djohan Hanafiah

Parawisata Jasa Utama, 1986

“5 Hari 5 Malam

Perang Rakyat Palembang 1947”

(Cerita Bergambar)

Asnawi Mangkualam

Aksara Baru, 1986

1987

“Pertempuran Lima Hari Lima Malam di Palembang”

(Cerita Bergambar)

Syaipul Rahman dkk

Disbudpar Kota Palembang, 1987

1989

“Kuto Besak:

Upaya Kesultanan Palembang Menegakkan Kemerdekaan”

Djohan Hanafiah

CV. Haji Masagung, 1989

1992

“Bumi Sriwijaya Bersimbah Darah: Perjuangan Rakyat Semesta Menegakkan Republik Indonesia di Ujung Selatan Sumatera” 

Abi Hasan Said

Yayasan Krama Yudha, 1992

1994

"Syair Perang Palembang"

Atja Danasasmita

Museum Negeri Propinsi Sumatera Selatan Balaputra Dewa 

1995

“Perang Palembang Melawan VOC”

Nanang S. Soetadji

& Djohan Hanafiah

Karyasari, 1995

1999

“Pasemah Sindang Merdika 1821-1866”

Kamil Mahruf dkk

Pustaka Asri & MPM, 1999

2000

“Sumatera Selatan Melawan Penjajah Abad 19

Berdasarkan Catatan Perang Pasemah Tahun 1866”

Millennium Publisher, 2000

2001

“Sejarah Perjuangan Kemerdekaan di Kota Palembang”

Djohan Hanafiah dkk

Pemkot Palembang, 2001

2002

"Perjuangan Mencari Ridha Tuhan

Catatan Tiga Zaman dari Balik Terali Penjara Rezim Tirani Suharto"

(Sketsa Perjuangan Kemerdekaan di Sumatera Selatan)

Mochtar Effendy

UNSRI Press, 2002

2003

“Kepialangan, Politik, dan Revolusi Palembang 1900-1950”

Mestika Zed

LP3ES, 2003

2009

"Syair Perang Palembang 1819"

Syaipul Rahman dkk

Disbudpar Kota Palembang, 2009

2010

"Syair Perang Menteng dalam Kajian Naskah"

Kemas A. Rachman Panji dkk

RAFAH Press, 2010

“Ikhlas Berjuang sampai Detik Terakhir

(Biografi IRP. Ahmad Lekap)

Pejuang Profesional dan Pencipta Senjata Automatis Pertama

di Masa Revolusi 17 Agustus 1945”

M. Amin Al-Wahadi

UNSRI Press, 2010

2012

“Palagan Palembang:

Pertempuran Lima Hari Lima Malam Wong Kito Galo”

Dinas Sejarah Angkatan Darat, 2012




| No comment yet

Jejak Pustaka Palembang - 1 - Warisan Dapunta Hyang


Seniman Singapura bernama Zai Kuning berimajinasi tentang perjalanan suci pendiri Sriwijaya: Dapunta Hyang Sri Jayanasa.

Maka jadilah serial pertunjukan seni instalasi berjudul “Dapunta Hyang: Transmission of Knowledge” yang tampil di Singapura, Hong Kong, Paris, dan Venesia. 



Sumber gambar: https://dapuntahyang2018.wordpress.com




Sumber gambar: https://dapuntahyang2018.wordpress.com



Dua elemen utama karya Zai Kuning berupa kerangka kapal dari rangkaian rotan dan tumpukan buku sebagai simbol “transmisi pengetahuan”.


Sumber gambar: https://dapuntahyang2018.wordpress.com





Sumber gambar: https://dapuntahyang2018.wordpress.com



Kapal sebagai citra pelayaran atau perjalanan, sudah mafhum adanya. Sebagaimana buku yang (seolah) tak tergantikan sebagai simbol pengetahuan.

Menariknya, karya seni ini menerbitkan pertanyaan penasaran.

“Apakah buku benar-benar ada dalam perjalanan suci Dapunta Hyang?”

Buku dalam artian jilidan lelembaran kertas tempat menera aksara.

Memang problematis jika mempersoalkan artefak buku pada seni instalasi itu. Apalagi dengan niat mengoreksi imajinasi seniman dengan dalih historically correct. Padahal, Sejarah sebagai ilmu sesungguhnya sangat pekat dengan imajinasi akan masa lalu.

Jadi, kalau bersikeras ingin berperilaku seperti itu, selain kurang kerjaan, juga kurang ajar namanya. Ibarat seorang Insinyur Teknik Sipil yang hendak mengorek tapak candi menggunakan ekskavator.

Justru itulah menariknya. Sebagaimana sastra, ketika sebuah karya seni memantik pertanyaan-pertanyaan, bahkan membuat orang-orang jadi mempersoalkan kenyataan yang dianggap baku oleh orang kebanyakan; itu berarti karya seni yang berhasil, kan?

Sedangkan sang seniman pun terkekeh-kekeh menyaksikan karyanya jadi bahan silang pendapat.

Dengan kesadaran demikian, mari mulai mempersoalkan “buku” pada era Sriwijaya. Namun sebelum itu perlu terlebih dahulu memperjelas istilah khusus yang digunakan dalam catatan ini. 

Mengapa Kita Menggunakan Kata “Pustaka”

Kita mengenal istilah “buku” sebagai serapan kata boek dari bahasa Belanda dan book dari bahasa Inggris. Konteks waktu penyerapan kata itu ialah ketika penguasa kolonial sudah memperkenalkan teknologi cetak di Nusantara. Dengan demikian, istilah “buku” sejatinya mengandung bias makna sebagai produk cetak (Pendit, 2018: 6).

Lain lagi dengan istilah “kitab” dari bahasa Arab yang cenderung bermuatan religi. Masyarakat Nusantara mengenal “kitab” setelah terpapar gelombang peradaban Islam dengan aksara Arab sebagai teknologi tulisan tangan. Itulah mengapa “buku” dari masa lalu itu disebut sebagai “naskah” atau “manuskrip”, untuk membedakannya dengan produk teknologi cetak.

Untunglah masyarakat Nusantara telah menyerap satu istilah pemungkas untuk menyebut ragam bahan bacaan atau berbagai jenis media yang memuat tulisan; baik itu berupa buku, naskah kuno, kitab keagamaan, arsip kolonial, hingga dokumen digital, yaitu: “pustaka”.

Pustaka Era Sriwijaya

Prasasti Kedukan Bukit dapat dianggap sebagai Pustaka Palembang yang pertama. Prasasti beraksara Pallawa dalam bahasa Melayu Kuno ini memuat catatan tentang Dapunta Hyang melakukan siddhayātra atau pawai kemenangan penuh sukacita.


Prasasti Kedukan Bukit. Sumber gambar: www.wacana.co


Di akhir perjalanan, tepatnya pada tanggal 16 Juni 682, Dapunta Hyang membangun wanua. Tanggal tersebut menjadi acuan penetapan hari jadi Kota Palembang. Inilah mengapa Prasasti Kedukan Bukit dianggap sebagai akta kelahiran Kota Palembang.

***

Dua tahun kemudian, 684 M, Dapunta Hyang membangun Taman Sriksetra. Sebuah taman untuk kemakmuran semua makhluk. Perihal pembangunan taman ini terpahat pada Prasasti Talang Tuo.


Prasasti Talang Tuwo. Sumber gambar: https://commons.wikimedia.org/wiki/File:Talang_Tuo_Inscription.jpg


R.H.M. Akib mengajukan tafsir unik perihal prasasti itu. Menurut Akib, Taman Sriksetra adalah “Taman Perpustakaan”.


Sumber gambar: Akib, R.H.M. 1956. "Batu-batu Tulisan Jang Dapat Digali di Kota Palembang dan Sekitarnja". Dalam "Kota Pelembang 1272 Tahun (684-1956) dan 50 Tahun Kotapradja (Haminte) Palembang (1906-1956)". Palembang: RHAMA Publishing House. hlm. 131.



Sumber gambar: Akib, R.H.M. 1972. "Penemuan di Palembang. Patung Budha yang Terbesar". Dalam "Buku Penemuan Hari Jadi Kota Palembang". Palembang: Humas Pemerintah Daerah Kotamadya Palembang, 1973. hlm. 90.


Nampaknya Akib mengajukan tafsir itu berdasarkan teks prasasti yang memuat kata-kata “pengetahuan” dan “kecerdasan” —jika merujuk terjemahan Ronkel (1924) dan Cœdès (1930).



Sebagian sumber yang R.H.M. Akib rujuk dalam penulisan tentang Prasasti Sriwijaya di Palembang, khususnya terkait Prasasti Talang Tuwo. Sumber gambar: "Buku Penemuan Hari Jadi Kota Palembang". Palembang: Humas Pemerintah Daerah Kotamadya Palembang, 1973. hlm. 100.