| 1 comment

HOROR SEPTEMBER

Sebagaimana Agustus, September juga amat lekat dalam memori kolektif bangsa ini.

Bila Agustus adalah masa gegap-gempita, maka September adalah horor dan darah. Horor yang terus menerus ditayangkan tiap tahun hingga anak bangsa tak lagi tahu mana yang fiksi, mana yang fakta. Hanya ketakutan secara naluriah terhadap simbol arit bersilang palu, tiga huruf P-K-I yang efek kengeriannya mirip mitos angka 666,
serta keangkeran "Lubang Buaya".

Kengerian itu terus menerus direproduksi oleh mereka yang mengklaim paling tahu soal sejarah. Tiap September mereka memasang spanduk-spanduk berisi peringatan perihal hantu komunisme dalam pikiran mereka. Di tangan mereka, sejarah seolah sobekan halaman kitab suci untuk menghalau hantu komunisme. Sobekan dari kitab sejarah resmi yang ditulis dalam orde monolitik. Ketika gagasan dan buku yang berbeda pandangan dengan penguasa berarti beracun sehingga harus dilarang. Bila perlu: tangkap, penjarakan, atau buang penulisnya, agar bungkam.

Barangkali mereka lupa, bahwa komunisme juga adalah buah pikiran manusia yang menafsir perubahan sejarah dan pola kehidupan masyarakat, buah pikiran yang terus berubah seiring perubahan zaman; bahwa dari gerakan politik ideologi inilah para aktivis pergerakan kemerdekaan bangsa ini memperoleh inspirasi militansi perlawanan terhadap kerakusan kolonialisme; bahwa dari buku-buku yang ditulis oleh seorang komunis jugalah para pendiri bangsa ini memperoleh tuntunan menuju Republik Indonesia yang merdeka. Atau jangan-jangan mereka tidak pernah membacanya.

| 2 comments

Bakar Buku

meski menjadi abu,

kata-kata akan terus hidup dan kembali tercipta

hinggap, membiak di kepala mereka yang lebih mencintai manusia dan alam merdeka


| No comment yet

Aku Buku

Aku menemukan diriku pada kata-kata di lelembaran berjilid

Aku adalah kata-kata yang kupahami

Aku menemukan diriku adalah rangkaian aksara yang kubaca

Aku membaca aku
| 4 comments

Bookmark_1

"Sebuah buku yang baik seringkali adalah simpanan terbaik
dalam satu kehidupan, mengandung pikiran-pikiran terbaik
di dalamnya hingga hidup tampak lebih mantap dilalui."

(Ernest Hemingway)
| No comment yet

Serendipity untuk Bakkara

Awalnya adalah perkenalan dengan seorang mbak di Serang,
waktu ikut Ode Kampung # Temu Komunitas Literasi se-Nusantara,
5-7 Desember kemarin.

Kami bercerita tentang bagaimana bisa tahu acara Ode Kampung.
Aku bilang kalau tahu dari milis. Lantas dia tanya,
"Mas Subhan pernah dengar milis sekolah kehidupan?"
Karena kenalan baru dan tidak ingin mengecewakan,
aku bilang, "Kayaknya sering dengar itu mbak."
Mbak itu, maaf ya mbak, aku lupa namamu :-)
Mbak itu bilang kalo dia adalah "pengurus" milis sekolah kehidupan.

Pulang ke Jogja, aku mulai cari milis sekolah kehidupan,
dapat, langsung join. Setelah di-approve, aku memperkenalkan
diri sebagai pustakawan yang tinggal di Jogja.

Besoknya, aku dapat sambutan hangat dari anggota
milis sekolah kehidupan, namanya Mbak Aisyah.
Sapaan hangatnya membuatku bersenang hati.
Dalam komentarnya, Mbak Aisyah nanya apakah
aku yang menulis tentang profil perpustakaan di Jogja
yang dimuat dalam majalah Annida.
Didorong penasaran, aku telusur situs Annida
lewat situs "Kakek Segala Tahu" (Google).

Tapi tidak kutemukan tulisan itu.
Kadung masuk situs itu, aku browsing tulisan-tulisan di dalamnya,
dan bertemulah aku dengan tulisan berjudul "Arsip Bakkara".

Teringatlah aku dengan temanku yang bernama Bakkara.
Bakkara itu adalah nama salah satu marga orang Batak.
Seingatku, Bakkara pernah bercerita bahwa orang
bermarga Bakkara sangat langka.

Ini dia artikel bagus untuk Bakkara, pikirku.
Lalu aku blok, kopi, paste.

Hal semacam ini cukup sering kulakukan.
Mungkin ini semacam habitus seorang pustakawan yang
selalu senang bisa menemukan rujukan yang tepat bagi
orang yang membutuhkan. Kebiasaan lain yang sepertinya
dimiliki oleh kebanyakan pustakawan ialah, merasa gregetan
bila melihat posisi buku yang tidak pada tempatnya atau
ditempatkan dalam kolompok klasifikasi ilmu yang tidak tepat.

Sayang aku tidak bertemu langsung dengan Bakkara
untuk memberikan print out "Arsip Bakkara".
Padahal aku kepingin sekali melihat ekspresinya ketika
mendapat artikel itu. Kami hanya sms-an, dia berterima kasih.

Aku berharap, artikel itu bisa bermanfaat buat Bakkara,
sebagaimana aku juga berharap agar rujukan yang aku
sodorkan pada pengunjung perpustakaanku bisa berkembang,
tidak sekadar sekali baca, tapi bisa memancing keingintahuan
lebih lanjut, sehingga mereka terus mencari dan mencari.

Barangkali, semacam inilah serendipity, kebetulan-kebetulan
yang menggiring orang ke suatu hal yang diinginkan.

Semoga Bakkara senang sebagaimana girangnya aku
menjadi pustakawan yang merasa dapat memberikan
rujukan bermanfaat bagi orang lain.