| No comment yet

Bibliografi H.B. Jassin

Jassin begitu mencintai buku. Sehingga ketika pada suatu hari ia sakit dan ayahnya bertanya “mau dibelikan apa”, secara spontan Jassin menjawab: “Buku!”
Ada yang unik dari buku “H.B. Jassin: Paus Sastra Indonesia” karya Pamusuk Eneste. Buku terbitan Djambatan ini tak memuat daftar pustaka atau bibliografi sebagai bagian penutup buku. Secara kreatif, Pamusuk Eneste mengolah daftar karangan Jassin dan mengenai Jassin menjadi dua tulisan berjudul “Biografi dan Karya H.B. Jassin” dan “Bibliografi mengenai H.B. Jassin dan Karyanya” yang urutannya adalah bagian 11 dan 12 dari total 13 bagian utama buku ini.
| No comment yet

Pernyataan Koalisi Perpustakaan & Pustakawan Indonesia untuk PDS HB Jassin

Siaran Pers Koalisi Perpustakaan dan Pustakawan Indonesia

SELAMATKAN KOLEKSI PUSAT DOKUMENTASI SASTRA HB JASSIN UNTUK KEMAJUAN SASTRA INDONESIA

Membaca surat kabar “Kompas” pada hari Sabtu dan Minggu, 19, 20, dan 21 Maret 2011 yang memberitakan kondisi ribuan koleksi karya sastra yang tersimpan di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin terancam rusak sangatlah mengenaskan.
| No comment yet

Pak BEYE dan Buku

SBY boleh bangga karena dia adalah Presiden Indonesia yang akrab dengan berita-berita seputar buku.

Pelarangan dan Pembakaran Buku Pelajaran Sejarah
Awal hubungan akrab tersebut bermula pada tahun 2007, yakni pelarangan dan pembakaran buku-buku pelajaran sejarah SMP dan SMA karena tidak memuat bab peristiwa Madiun 1948 dan tidak menyertakan akronim PKI setelah G30S.
| No comment yet

Verba Volant Scripta Manent

(Tulisan di bawah ini merupakan kutipan dari buku "Menghibur Diri sampai Mati: Mewaspadai Media Televisi" karya Neil Postman, edisi Indonesia, yang diterbitkan pada tahun 1995 oleh Pustaka Sinar Harapan, halaman 32-33). Saya memberi judul "Verba Volant Scripta Manent" karena kutipan ini merupakan contoh gamblang perihal "superioritas" tradisi tipografi (tulis/cetak) ketimbang lisan)
| 1 comment

Buku-buku Romeo dari Pontianak

Hingga angka 0880, saya baru mencatat dua entri untuk nama penerbit “Romeo Grafika” dalam buku inventarisasi koleksi perpustakaan tempat saya bekerja. Selebihnya, daftar tersebut didominasi oleh penerbit-penerbit dengan gelar Pustaka Utama, Yayasan Obor Indonesia, Tiara Wacana, LP3ES, dan penerbit-penerbit seputaran Jakarta, Yogyakarta, dan Bandung. Kalaupun ada nama-nama penerbit di luar segi tiga kota itu, buku-buku “penerbit lokal” yang saya catat pada umumnya adalah produk Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), perguruan tinggi, dan pemerintah daerah; lembaga-lembaga yang aktivitas pokoknya bukanlah sebagai produsen bacaan untuk umum.